Meskipun uang Anda tidak sebanyak Donald Trump, namun bila memanfaatkannya secara bijak, niscaya Anda akan merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Untuk itu, coba cara-cara yang disebutkan Elizabeth Dunn dan Michael Norton dalam buku berjudul Happy Money berikut ini:
Waktu untuk sosialisasi
Banyak orang yang ingin membeli rumah, mobil, atau gadget impian dengan cara menabung sekaligus memotong anggaran bersosialisasi. Menabung adalah hal positif. Tapi, membatasi hubungan Anda dengan orang terdekat bukan smart move. Kebahagiaan bersama keluarga atau sahabat tidak ternilai dengan uang berapa pun.
Habiskan untuk pengalaman, bukan benda
Sering kali manusia berpikir, jika punya uang tak terbatas, bisa membeli apa pun dan pasti bahagia. Namun, yang sebenarnya berdampak pada kebahagiaan Anda adalah ‘pembelian’ kategori leisure, di antaranya traveling, nonton di bioskop, hingga membeli tiket untuk menghadiri pertandingan olahraga atau konser.
Pahami kegunaannya
Ketika membeli dalam jumlah besar, Anda cenderung fokus pada kegunaan barang tersebut—bukan yang Anda butuhkan. Misal, membeli TV flat-screen dan berlangganan TV kabel supaya mendapat hiburan yang memuaskan. Seharusnya, nih, Anda berpikir ‘apa pengaruh barang yang saya beli di hari Selasa (misalnya)’. Jika pengaruhnya tidak signifikan, Anda tahu barang tersebut belum dibutuhkan.
Waspadai kartu kredit
‘Berpisah’ dari uang tunai lebih menyedihkan dibanding melihat kartu kredit digunakan. Soalnya kemudahan dari kartu kredit sering membuat Anda melakukan pembelian ‘tak sengaja’, alias jadi impulsive buyer. Contoh, tadinya mau membeli tiket konser seharga Rp 500.000. Mengetahui pembelian dengan kartu kredit mendapat iming-iming voucher makan senilai Rp 500.000 dengan membayar Rp 750.000, misalnya, Anda akhirnya menggesek kartu Rp 750.000—lebih dari rencana semula, kan.
Bayar tunai di muka
Membeli barang menggunakan uang tunai sebenarnya menimbulkan perasaan senang. Saat barang sudah di tangan—dan tidak dapat dikembalikan—tidak ada yang dapat Anda lakukan kecuali menikmatinya. Apabila memang Anda tidak berniat membeli tapi puas terhadap pembelian tersebut, maka rasa sesal tidak akan pernah menghantui. (MEI/FOTO:FOTOSEARCH)
Waktu untuk sosialisasi
Banyak orang yang ingin membeli rumah, mobil, atau gadget impian dengan cara menabung sekaligus memotong anggaran bersosialisasi. Menabung adalah hal positif. Tapi, membatasi hubungan Anda dengan orang terdekat bukan smart move. Kebahagiaan bersama keluarga atau sahabat tidak ternilai dengan uang berapa pun.
Habiskan untuk pengalaman, bukan benda
Sering kali manusia berpikir, jika punya uang tak terbatas, bisa membeli apa pun dan pasti bahagia. Namun, yang sebenarnya berdampak pada kebahagiaan Anda adalah ‘pembelian’ kategori leisure, di antaranya traveling, nonton di bioskop, hingga membeli tiket untuk menghadiri pertandingan olahraga atau konser.
Pahami kegunaannya
Ketika membeli dalam jumlah besar, Anda cenderung fokus pada kegunaan barang tersebut—bukan yang Anda butuhkan. Misal, membeli TV flat-screen dan berlangganan TV kabel supaya mendapat hiburan yang memuaskan. Seharusnya, nih, Anda berpikir ‘apa pengaruh barang yang saya beli di hari Selasa (misalnya)’. Jika pengaruhnya tidak signifikan, Anda tahu barang tersebut belum dibutuhkan.
Waspadai kartu kredit
‘Berpisah’ dari uang tunai lebih menyedihkan dibanding melihat kartu kredit digunakan. Soalnya kemudahan dari kartu kredit sering membuat Anda melakukan pembelian ‘tak sengaja’, alias jadi impulsive buyer. Contoh, tadinya mau membeli tiket konser seharga Rp 500.000. Mengetahui pembelian dengan kartu kredit mendapat iming-iming voucher makan senilai Rp 500.000 dengan membayar Rp 750.000, misalnya, Anda akhirnya menggesek kartu Rp 750.000—lebih dari rencana semula, kan.
Bayar tunai di muka
Membeli barang menggunakan uang tunai sebenarnya menimbulkan perasaan senang. Saat barang sudah di tangan—dan tidak dapat dikembalikan—tidak ada yang dapat Anda lakukan kecuali menikmatinya. Apabila memang Anda tidak berniat membeli tapi puas terhadap pembelian tersebut, maka rasa sesal tidak akan pernah menghantui. (MEI/FOTO:FOTOSEARCH)


