Online dan OfflineKini, CV tak hanya file yang tersimpan dalam desktop PC atau memori card yang sewaktu-waktu Anda keluarkan saat dibutuhkan. Kemunculan situs lowongan kerja yang kian marak seperti linkedIn.com, jobstreet.com, ceevee.com, dan lain-lain, membuat CV menjadi ‘foto diri’ Anda yang bisa dilihat banyak orang kapan saja. Menurut Sylvina, menyimpan CV secara online ini memang lebih praktis, tapi harus dinamis. Sehingga, perlu untuk meng-upgrade CV tiap waktu, agar orang yang melihat CV Anda mendapatkan berita terbaru tentang Anda. Hal ini tentu berbeda dengan CV offline yang hanya perlu di-upgrade atau diperiksa kembali saat diminta untuk mengirimkan CV untuk keperluan tertentu saja.
Lakukan Berkala
Upgrade CV, berlaku baik untuk CV online maupun offline.
Online: Periksa per tiga bulan sekali atau tiap ada perubahan dalam track record pekerjaan. Seperti promosi jabatan, prestasi, atau assignment yang memberi nilai tambah profesional.
Offline: Upgrade CV secara offline memang tidak harus dilakukan dalam waktu 3 bulan sekali seperti CV online. Namun, Anda juga perlu mencatat hal-hal penting yang pernah dicapai sebagai bahan untuk meng-upgrade CV. Fokuskan pada summary of qualification, yang merupakan poin-poin kunci dari kualifikasi, kompetensi, dan prestasi yang sebaiknya Anda highlight. Letakkan di bagian awal CV sesuai dengan perkembangan karier atau profesi. Tulis dalam format pointers, dan tidak lebih dari 7 poin. “Summary of qualifications inilah yang disesuaikan tiap saat mengirimkan atau memasukkan CV sesuai dengan kebutuhan khusus, misalnya mencari kerja, kompetisi, beasiswa, menjadi speaker atau narasumber,” katanya.
(DESIYUSMAN MENDROFA)


