Konsep pengembangan diri secara horizontal ini bisa diterapkan secara optimal ketika seseorang berani bertanya dan meminta kesempatan. Seperti yang terjadi pada Sherry (35), yang selama enam tahun bekerja sebagai software developer untuk sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT. Karena selalu proaktif, sering terlibat dalam berbagai proyek sales dan ingin bertemu dengan banyak orang, Sherry ingin pindah haluan dari pekerjaan impian masa kecilnya itu.
“Ketika mengajukan pengunduran diri, saya mengutarakan niat saya untuk bekerja di bidang sales. Tidak saya duga, atasan saya justru menawarkan untuk menjadikan saya kepala agen distributor hardware. Ketimbang harus mencari pekerjaan di tempat lain, kesempatan itu langsung saya ambil saja,” ungkap Sherry, yang mengaku senang dengan keputusannya waktu itu.
Dari sudut pandang atasannya, Sherry adalah aset yang berharga. Ia sudah bekerja selama bertahun-tahun, paham seluk-beluk perusahaan, dan memiliki semua kualitas positif yang dicari dalam diri seorang karyawan.
“Daripada melepaskannya untuk perusahaan lain yang mungkin saingan, mereka justru memberinya kesempatan untuk mengembangkan diri. Ini adalah hal yang positif,” ujar Patricia Susanto, CEO Jakarta Consulting Group. Ia juga menyarankan untuk mempertimbangkan untung rugi antara berpartner dan bersaing dengan sang atasan nantinya.
Karena, sering kali orang gegabah atau terburu-buru resign ketika merasa dirinya sudah memiliki ilmu yang mumpuni setelah sekian tahun bekerja. Tapi, Patricia mengingatkan, seseorang yang cemerlang di bidang profesinya, entah itu konsultan, pengacara, atau desainer grafis misalnya, belum tentu memiliki kualitas untuk menjadi seorang pengusaha.
“Misalnya, ada seorang creative director yang resign untuk mendirikan agensi periklanan sendiri. Karena belum mampu menggaji orang, ia kemudian tenggelam dalam urusan administrasi dan keuangan sehingga urusan kreatifnya malah jadi terbengkalai,” cerita Patricia.
Skenario Sherry menurut Patricia jauh lebih baik karena ada hubungan timbal balik antara Sherry dan perusahaannya. Sherry bisa mengembangkan kompetensi dirinya lebih jauh, sementara bagi perusahaan ia adalah seorang entrepreneur dan shareholder yang mau diajak menanggung risiko bersama.
“Karena masih ditopang perusahaan, ia memiliki kekuatan finansial untuk mengajukan pinjaman modal dari bank, yang tentunya akan lebih sulit apabila ia berdiri sendiri,” katanya.
PRIMARITA S. SMITA


