John Michaelson/ GPU
Di mata Peter, Jakarta mempertemukannya dengan penduduk lokal yang masih rasis dan blakblakan saat memanggil orang asing berkulit pucat. Dengan sarkasme yang menyegarkan cerita, pembaca diajak mengintip isi kepala seorang dosen asing yang mencoba membangun hidup di ibu kota yang ramai, namun tetap membuatnya merasa terasing. Ajakan untuk selalu berpikir kritis dalam menghadapi tiap masalah disampaikan penulis lewat sebuah konflik keluarga seorang pemuka agama yang menjadi panutan sekaligus TV personality.(f)


