Trending Topic
Anak Bukan Breadwinner

17 Nov 2014


Kebutuhan industri yang tinggi, jumlah episode yang meningkat, serta jadwal show yang padat memberi keuntungan ekonomi bagi para artis cilik dan remaja ini. Rezeki mengalir lancar. Rumah besar dan mobil mewah pun bisa dibeli. Hingga tak sedikit artis cilik yang akhirnya menjadi pencari nafkah utama keluarganya.
   
Menanggapi hal ini, psikolog dari Universitas Indonesia, Dr. Rose Mini, M.Psi, yang biasa dipanggil Bunda Rose, berujar, yang namanya rezeki tentu patut disyukuri. Tapi, seharusnya breadwinner dalam keluarga adalah orang tua, bukan anak. “Penghasilan dari anak yang terjun ke dunia hiburan sebaiknya dijadikan tabungan masa depan anak saja. Tanggung jawab orang tua untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, meskipun anaknya itu adalah selebritas yang punya penghasilan tinggi,” ujar psikolog yang pernah ikut mendampingi sebuah ajang pencarian bakat anak-anak ini.
   
Memang, ia tak menampik fakta bahwa tak sedikit orang tua yang menjadikan industri hiburan ini sebagai jalan keluar dari permasalahan ekonomi atau peluang untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Tapi, Bunda Rose khawatir, perubahan kondisi ekonomi yang drastis itu tidak dibarengi oleh kesiapan mental yang matang.
“Uangnya mungkin tidak terkelola dengan baik, dan dibelikan berbagai macam barang, mulai dari mobil hingga rumah. Tanpa disadari bisa muncul dorongan untuk mendapatkan lebih dan lebih,” katanya. Di sini peluang si anak untuk tereksploitasi jadi membesar.
   
Padahal, dari sisi si anak, ketika ia terjun ke dunia hiburan, ia tidak peduli dengan berapa banyak uang yang bisa ia dapat. Yang ia tahu, ia senang bisa menampilkan bakatnya di hadapan banyak orang. Hal inilah yang dirasakan Leony.
“Menjadi penyanyi cilik dulu tak saya rasakan sebagai cara untuk mencari uang. Saya dulu bahkan tidak sadar bahwa saya ini terkenal hingga album Trio Kwek Kwek yang ketiga yang dirilis pada tahun 1995,” kisahnya. Yang Leony tahu, ia dulu sangat menikmati semua kesibukan bernyanyi di berbagai acara karena dasarnya ia memang suka menyanyi dan tampil di atas panggung.
   
Menurut Bunda Rose, anak-anak memang belum paham akan makna uang. Karena itu, ketika seorang anak menjadi breadwinner di dalam keluarganya, ia khawatir akan membuat posisi orang tua sebagai penanggung jawab rumah tangga yang seharusnya mendidik anak menjadi lemah. “Harusnya, meski si anak menjadi pencari nafkah pun, orang tua tidak bisa tunduk kepadanya,” ujarnya.
   
Apa yang terjadi pada Tegar, seorang pengamen cilik asal Subang yang menjadi tenar setelah menjuarai suatu kompetisi menyanyi pada tahun 2012, bisa menjadi contoh. Uang yang ia dapat dari popularitasnya bisa membawa ia, orang tua, serta tiga
adiknya keluar dari rumah petak berukuran 4X6 meter yang selama ini mereka tempati.
   
Di usia 12 tahun, dengan penghasilan mencapai Rp40 juta sebulan, ia bisa membelikan keluarganya rumah dan mobil. Ia juga membelikan dirinya sebuah motor cross karena ia memang sudah lama ingin mencobanya. Padahal, kalau melihat usianya, dia belum boleh mengendarai sepeda motor.
   
“Hal yang mulia jika Tegar mampu mengangkat keluarganya dari kesulitan ekonomi. Tapi, seharusnya ia dididik bahwa tidak semua barang yang ia mau bisa ia beli sekarang juga, meski ia punya uangnya,” papar Bunda Rose.   

Dalam mengelola keuangan Igbal, Rike berusaha menerapkan kedisiplinan. Uang yang Iqbaal hasilkan dari CJR ditabung untuk pendidikan Igbal di masa depan dan investasi properti. “Meski ia paham sudah punya penghasilan sendiri, saya tetap menjatah uang jajannya  tiap hari. Saya juga tak sembarangan membolehkannya membeli barang-barang yang tidak ia butuhkan,” papar Rike.
   
Anak yang menjadi selebritas dengan penghasilan besar perlu disiapkan bahwa suatu hari ada kemungkinan popularitasnya meredup. Karena itu, dengan selalu membiarkan si anak membeli semua barang yang ia inginkan, orang tua berarti tidak menyiapkan mental anak untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dalam karier sang anak.
   
Keadaan bisa menjadi lebih rumit ketika orang tua terlibat sebagai manajer si artis cilik. Memang, jika orang tua turun tangan langsung sebagai manajer, sisi positifnya ia bisa lebih mengontrol jadwal anak sesuai dengan kapasitas anak. Hal ini diakui Leony terbukti berhasil terhadap Trio Kwek Kwek. “Karena orang tua para personel yang menjadi manajer, maka pengaturan waktu pun jelas tak merugikan kami, anak-anaknya,” ungkapnya.   

Sebagai ibu sekaligus manajer, Fanny Bauty juga lebih bisa mengontrol jadwal syuting anaknya agar tidak membuat anaknya kewalahan dan sekolahnya terbengkalai. Demikian juga dengan Joshua. Manajemen karier dan keuangannya ditangani langsung oleh orang tuanya, terutama ayahnya.

“Saya tak pernah memusingkan masalah honor. Saya percaya sekali pada orang tua yang selalu mendampingi dan menjadi tim manajer yang solid. Mereka juga cukup terbuka mengenai apa pun,” papar Joshua. Sementara, meski CJR memilih berada di bawah naungan manajemen artis profesional, Inbek Plus,  Rike serta orang tua Aldy dan Rizky turut terlibat dalam menentukan jadwal syuting dan show CJR.
   
Keterbukaan dan profesionalisme memang syarat penting yang perlu dimiliki manajemen yang dikelola oleh orang tua. Menurut Bunda Rose, fungsi orang tua beda dengan manajemen. Ada tugas dan tanggung jawab yang berbeda. Jika sudah jadi satu bisa terjadi overlapping yang memusingkan.
   
Campur tangan orang tua di dalam manajemen anaknya yang artis, menurut Syahmedi Dean, artist producer, beberapa kali justru menjadi penyebab jatuhnya popularitas artis cilik dan remaja di Indonesia. Ketika sang anak baru memulai kariernya, umumnya orang tua memercayakan sepenuhnya ke pihak manajemen.

“Tapi ketika orang tuanya tahu nilai ekonomi dari anaknya, muncul kekhawatiran bahwa pihak manajemen akan bersikap tidak adil padanya. Merasa anaknya sudah menjadi bintang, orang tua akhirnya memutuskan untuk mengambil alih manajemen anaknya,” paparnya. Sayangnya, ketika orang tua memutuskan untuk mengurus sendiri manajemen anaknya, mereka sering kali tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup akan industri hiburan.

Dean berujar, banyak artis di Indonesia yang bakatnya pas-pasan. Tapi, berkat kemampuan produser untuk mengemas mereka atraktif secara visual dan audio, publikasi yang terencana dan kontinu, serta strategi pemasaran yang matang, popularitas artis ini bisa meroket tinggi.  Ketika manajemen diambil alih orang tua, strategi seperti ini tidak dilanjutkan. Sehingga, tak butuh waktu lama bagi artis tersebut hingga popularitasnya benar-benar padam.

EKA JANUWATI




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?