“Maaf,” bisik Ana, hampir tak terdengar.
“Jika harus ada permintaan maaf, akulah yang mesti mengucapkannya. Akulah yang gagal membuatmu merasa berada di tempat yang benar dengan orang yang benar pula.”
Heru memandang langit-langit kamar. Rasa frustrasinya jauh mengalir keluar. Yang tersisa sekarang hanyalah keletihan, atau lebih tepatnya lagi, kekosongan melelahkan. Dia menghitung detik-detik yang berlalu, sebelum memutuskan membuka mulut lagi.
“Aku pernah membaca, atau mungkin mendengar seseorang yang konyol berkata ‘tak perlu minta maaf, bila mencintai’. Kucoba memandang dari segala segi, yang paling harfiah sampai yang arif sekalipun, aku selalu gagal memahami artinya. Tapi, kali ini kurasa aku ingin mengatakan hal itu untukmu, dengan segala keterbatasan pemahamanku. Jangan minta maaf, Ana.”
Hanya tiga kata. Tiga kata yang diucapkan dengan sederhana di sebuah kamar yang sederhana pula. Tidak ada sarkasme, tanpa sinisme. Hanya ketulusan. Ana merasa hancur sepenuhnya. Dia tak mengerti kenapa bisa begitu, mengingat kehancuran demi kehancuran yang menggerogotinya akhir-akhir ini, membuatnya merasa tak bisa lebih hancur lagi.
Dia menelan isaknya, lalu berbalik. Mengintip pria di sampingnya melalui helai-helai rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Heru masih telentang. Ana ingin menyentuhnya, namun takut.
“Kau tak kecewa?” tanyanya, merasa polos.
“Aku munafik, kalau berkata tidak. Aku bukan hanya kecewa. Aku frustrasi, seperti yang pasti kau ketahui. Secara fisik.”
Dia juga berbalik. Berbaring miring, berhadapan. Dalam keremangan, saling memandang, masing-masing berusaha menembus keterbatasan dengan cahaya lain yang jauh lebih benderang dari sekadar lampu sekian w