Fiction
Novelet : Esperansa (1)
21 Jul 2018
Papa memberiku tape recorder hitam kecil lengkap dengan baterai dan kaset kosong.
“Untuk merekam perbincangan nanti,” kata Papa. “Agar bisa diputar ulang kalau kau rindu mereka kelak.”
Tapi, kaset itu tetap tak merekam pembicaraan apa pun. Tak ada pertemuan. Aku bahkan menjadi orang terakhir yang meninggalkan jembatan air mata itu.
Pertemuan-pertemuan selanjutnya, aku memilih untuk tidak pergi. Aku hanya menitipkan kaset berisi ungkapan rindu pada Mama, Antoni, dan Carolin lewat Abilio, sahabat sekaligus tetanggaku yang juga sama-sama menghadapi kenyataan harus berpisah dari keluarga.
Bedanya, Abilio bisa bertemu dan melepas rindu dengan mereka, sementara dengan raut sedih dia menyerahkan kembali kaset yang kutitipkan.
Dan hari ini, enam belas tahun dari waktu itu, aku meninggalkan Dili. Tentu kepergianku sudah melalui pertimbangan yang lama. Aku telah siap dengan segala risiko. Bahkan jika nanti tidak bertemu dengan mereka.
Enam belas tahun. Aku membingkai wajah Mama, Antoni, dan Carolin dengan perasaan rindu. Bagaimana tanggapan mereka ketika nanti melihat kedatanganku? Apakah aku akan mendapat sambutan rindu yang sama besar seperti rindu yang aku bawa?
“Aku pernah berada di posisimu, Emili,” ucap Abilio, yang sejak tadi diam. Beberapa tahun lalu, lelaki itu juga menemukan keluarga besarnya: paman, bibi dan kakaknya lewat media sosial, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan sesungguhnya.
Saat itu aku ikut membuat akun di media sosial juga.
“Percayalah, ini akan menjadi salah satu jalanmu. Biar Antoni atau Carolin mudah kalau mencarimu.”
“Yaa… ya.” Aku tidak menutupi rasa putus asa.
Kenyataannya, setelah mempunyai akun media sosial pun, tak semudah itu menemukan keluargaku. Tidak Carolin, tidak juga Antoni. Apalagi Mama.
Berkali-kali aku memasukkan nama-nama itu di kotak pencari. Begitu banyak nama sama yang muncul, tapi tak satu pun itu milik dari salah satu keluargaku.
Lalu, beberapa bulan yang lalu, Abilio membawa kabar yang membuatku seperti tak menginjak bumi. Ada tulisan kecil di bawah gambar itu: “Antoni dan Carolin, perintis taman baca bagi anak-anak permukiman trans.”
“Aku yakin ini Antoni kita. Dan Carolin, dia banyak berubah, tapi senyum dan lesung pipi itu tetap miliknya.”
Gambar itu mengabur seiring mataku yang perih.
“Mereka di Sambas, Kalimantan Barat,” ucap Abilio. “Ini lokasi transmigrasi.”
Aku membuka peta. Kucari letak Sambas, Kalimantan Barat. Kabupaten yang berbatasan dengan Malaysia.
“Tapi, ini foto setahun lalu. Diambil seorang relawan dari Indonesia Mengabdi.”
Jelas sudah, bukan Antoni ataupun Carolin yang mem-posting foto mereka ke media, tapi orang lain.
Harapanku kembali ciut. “Aku sudah menghubungi pemilik blog, dan minta alamat tempat itu.”
Abilio adalah sahabat yang baik. Dia tidak pernah setengah-setengah ketika menolong. Tidak hanya pada diriku, tapi juga pada orang lain. Jadi, ketika aku memutuskan untuk pergi mencari mereka, lelaki itu adalah orang pertama yang mendukungku.
“Batas-batas negara hanya pertanda wilayah yang dibangun manusia. Pada dasarnya Tuhan menciptakan bumi untuk kita semua. Bendera tak bisa mengubah darah yang telah mengalir dalam diri kita, bukan?”
Sementara Papa, yang aku khawatirkan mencegahku, justru membuatku tertegun. “Pergilah. Dia tetap mamamu. Orang yang bisa mendiamkan tangismu saat kecil. Satu-satunya orang yang bisa memahamimu saat kau merajuk.”
“Papa tidak ingin bertemu Mama?” aku memancing.
“Keadaan tidak lagi sama, Emili.”
“Tapi, Papa tak pernah mencari pengganti Mama?”
“Itu bukan tujuan hidup Papa.”
“Papa masih mencintai Mama, bukan?”
“Untuk apa mempertahankan orang yang kita cintai, kalau ia tak bahagia bersama kita?”
Diam-diam aku merekam perbincangan itu. Berkali-kali aku memastikan bahwa suara Papa kelak bisa didengarkan oleh Mama. Aku berharap ucapan itu akan menyentuh hati Mama, dan mereka bisa kembali berkumpul sebagai satu keluarga. Tetapi, ternyata diam-diam Papa telah menyiapkan rekaman tersendiri untuk Mama.
Jadi aku berharap itu adalah sinyal yang baik. Seperti harapan yang aku langitkan dalam doa-doa. Jika Papa dan Mama masih saling mencintai, tidak ada salahnya bukan mereka menghabiskan hari tua bersama-sama?
Pikiranku buyar seiring dering telepon dari ponsel Abilio. “Mendadak sekali?” kata lelaki itu bicara di telepon. “Tidak bisakah diundur sehari lagi? Tolonglah!”
Aku menatap raut cemas sahabatku. “Iyalah sehari saja. Ok. Kuusahakan.” Lelaki itu mengakhiri teleponnya. “Syuting dimajukan, apa-apaan….”
Abilio memang bukan artis, tapi dia lolos seleksi menjadi salah satu pemeran film The Great Thriller, sebuah film bersambung yang bagian pertamanya sudah tayang pertengahan tahun ini.
Seorang sutradara dari Portugal yang menggagas film tersebut. “Aku tidak apa-apa pergi sendiri.”
“Ini bukan masalah,” Abilio menggeleng. “Aku sudah janji sama papa kamu untuk mengantarkan sampai
tujuan.” “Film itu?”
“Begitu kau bertemu mereka, aku akan kembali ke Dili. Setelah syuting selesai, aku akan menjemputmu.”
“Ya, Tuhan. Aku bukan anak kecil yang harus diantar jemput, Bil. Aku bisa pulang sendiri. Bahkan
saat ini pun aku bisa berangkat sendiri. Aku sudah pelajari baik-baik rutenya.” Aku menyerongkan badan ke arah Abilio.
“Ini bukan pelajaran membaca peta, Bu Guru. Ini sesuatu yang besar. Kau tidak tahu kapan butuh
orang lain.” Seperti biasa, lelaki itu tidak mau dibantah.
Aku kembali membuang muka ke luar jendela mobil. Menatap jejeran gedung-gedung yang sedang dibangun, batang-batang Madrecacau yang seakan berlari berlawanan dengan arah mobil. Lalu bayangan samar, yang makin lama bertambah jelas muncul dalam lamunanku.
Topic
#fiksi, #novelet, #cerber