“Dia wanita yang hadir sebelum mamamu. Namanya Lilian. Mereka awalnya teman di sekolah dulu, lalu berlanjut dengan hubungan istimewa. Tiap akhir pekan, Lilian datang ke rumah eyangmu, memasakkan masakan untuk papamu. Salah satunya tim daging ini. Mereka saling mencintai, tetapi perbedaan keduanya membuat mereka tidak mungkin bersatu. Orang tua Lilian mengirim Lilian ke luar negeri. Sejak saat itu hubungan mereka kandas,” cerita Bude, sambil menggoreng bawang merah dan bawang putih hingga kering.
Aku terdiam. Kerongkonganku terasa kering. Lilian, kueja nama cantik itu perlahan. Wanita itukah yang dirindukan Papa di penghujung usianya?
“Butuh waktu lama bagi papamu untuk bisa membuka hatinya bagi wanita lain. Tetapi, mamamu cukup sabar dan gigih menunggu, hingga akhirnya mereka menikah dan lahirlah kalian bertiga,” Bude Nanik melanjutkan kisahnya sambil menggeprek seiris jahe dan mengiris bawang daun. Ah. Ternyata, di hati Papa tidak sepenuhnya hanya ada Mama. Kubayangkan Papa yang berusaha keras untuk bisa menerima kehadiran wanita lain setelah Lilian. Bahkan, di usia senjanya yang rapuh karena penyakit jantung yang menderanya, hanya masakan Lilian yang dirindukannya. Aku menyusut sudut mataku yang terasa basah. Tak sanggup membayangkan bagaimana perasaan Mama seandainya mengetahui ini semua. Untuk pertama kalinya aku bersyukur Mama sudah tiada, sehingga tidak perlu terluka di penghujung usianya.
Topic
#fiksifemina