“Serius sekali,” perempuan itu bertutur dengan suara serak dan sedikit kering.
“Sudah, hentikan! Aku sudah bilang tak mau dilukis,” perempuan itu berusaha bangkit dari ranjangnya. Tampak berat. Lekas-lekas lelaki di hadapannya melesat ke ranjang dan membantunya duduk.
“Apa kau ingin minum? Biar kuambilkan.” Lelaki itu merapikan bantal untuk sandaran.
“Aku tak mau dilukis,” rajuknya lagi.
“Ayolah! Difoto tak mau, dilukis juga tak mau. Lalu apa yang kau sisakan untukku?”
Perempuan itu terbatuk-batuk, “Kalau ada yang asli, kenapa mesti difoto atau dilukis?”
Lelaki itu menunduk beberapa saat dan menatap wajah pucat di hadapannya,
“Jadi, kau benar-benar tak mau dilukis?”
“Cukup kau lukis aku dalam ingatanmu saja,” balas perempuan itu singkat.
Lelaki itu menarik ujung bibirnya, tapi tidak membentuk senyum.
Dokter memang tak mengatakan bahwa umurnya tak lagi panjang. Ia hanya bilang bahwa perempuan itu butuh sebuah mukjizat. Hanya mukjizat.
“Apa kau marah karena aku melarangmu melukisku?” perempuan itu menatap tajam ke arahku. Aku balas menatapnya. Melihat raut wajahnya yang gersang, membuatku bungkam.
“Kau benar-benar marah, ya?” perempuan itu mengulang pertanyaannya.
“Aku hanya tak tahu harus bagaimana,” balasku, lirih.
“Apa kau takut kalau aku mati?” ia melemparkan pertanyaan bodoh itu lagi.
“Memangnya siapa yang akan mati?”
“Kupikir, penjelasan dokter sudah cukup mewakili.”
“Dokter bukan Tuhan yang bisa memutuskan siapa hidup siapa mati.”
“Tapi dokter punya ilmunya.”
Aku tak mau meneruskan percakapan tajam yang seperti belati ini. Aku beranjak keluar kamar, meninggalkannya seorang diri.
Sejurus, ia membaringkan tubuhnya kembali. Menatap langit-langit kamar yang berwarna putih jernih. Ia paham seribu kali, jika akhir-akhir ini suaminya bersikap seperti itu. Apa pun dan bagaimanapun, ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk tetap tersenyum. Jika redam itu tiba-tiba datang, ia akan menengadahkan kepala dan bergumam, “Aku cukup bahagia.”
Memang, beberapa bulan lalu, ketika dokter mengatakan bahwa dalam sel darahnya terdapat leukosit yang membabi buta, ia cukup shock. Kata dokter, sudah terlambat, untuk dapat bertahan. Ia sendiri sebenarnya ngeri. Sebab itulah, ia tak pernah berani bertanya kepada dokter mengenai sisa usianya. Biar Tuhan saja yang memutuskan. Dan benar, setelah menyerahkan semua kepada Tuhan, hatinya bisa sedikit lega. Jika Tuhan menghendaki ia sembuh, mengapa tidak. Memangnya apa yang bisa dilakukan manusia?
Lapang sudah hatinya menerima apa-apa yang bakal terjadi. Hanya, suaminya, tampak seperti manusia yang tak pernah siap kehilangan sesuatu. Ia memaklumi itu. Ditinggalkan memang sebuah keadaan yang cukup sulit, lebih sulit daripada meninggalkan. Lebih sakit. Maka, pelan-pelan, ia ingin suaminya belajar menerima, berlapang dada, dengan sebuah cara: tersenyum. Ia berjanji akan mengajarkan suaminya untuk tetap tersenyum. Di setiap keadaan.
“Apa kau cukup bahagia?”
“Aku tak punya alasan untuk bersedih-sedih. Tapi, jika kau mau tahu, apa yang bisa membuatku sedih, jawabannya adalah melihatmu sedih. Jadi, apa sekarang kau mau tersenyum?”
Entah dari mana perempuan itu punya cara, tuturnya selalu bisa membuatku menangis dan tertawa dalam waktu bersamaan.
“Aku tak memintamu tertawa, aku hanya memintamu tersenyum,” ia merajuk lagi.
Aku bungkam, meski akhirnya tersenyum.
“Karena kau sudah tersenyum, sekarang kau boleh melukisku.” Perempuan itu memiringkan tubuhnya. Setengah duduk. Ia tersenyum manis. Sangat manis.
“Ayo! Bukankah kau ingin sekali melukisku? Ayo! Sebelum aku berubah pikiran,” katanya lagi. Apa kataku, orang yang ajalnya sudah dekat memang suka bertingkah gila. Beberapa jam lalu ia melarangku melukisnya, sekarang malah memaksaku untuk melukisnya. Aku bangkit perlahan. Mengambil kanvas yang tersandar di dinding, berikut cat dan kuasnya.
“Apa kau keberatan jika aku merebahkan tubuh?” Perempuan itu bergeser dari posisinya semula. “Carilah posisi yang paling nyaman. Sebenarnya yang kubutuhkan hanya izinmu. Bukankah katamu, aku cukup melukismu dalam ingatanku saja. Itu sudah lama sekali kulakukan. Jadi, bagaimanapun posisimu, duduk, berdiri, rebah, atau tengkurap sekalipun, aku tak mungkin keliru melukis wajahmu.”
Perempuan itu merebahkan tubuhnya perlahan, tersenyum dan terbatuk-batuk agak dalam, lalu terpejam.
Mashdar Zainal