Selama beberapa tahun terakhir, wacana tentang rumah ideal seolah didikte oleh tren minimalisme yang ekstrem, bersih, kosong, dan steril dari barang. Ada semacam tekanan tak kasat mata di tengah masyarakat modern bahwa memiliki banyak barang berkesan mengingatkan dengan rumah gaya masa lalu yang sarat pajangan. Namun, setelah membaca rilis pers terbaru dari IKEA Indonesia dan Wonderwhy SEA terkait kampanye "Clean Sleeper", Femina menemukan sebuah perspektif segar yang dengan berani menantang tren tersebut.
Realitas Ruang vs Ekspektasi Estetika
Melalui paparan pengamatan IKEA Home Visit dan Life at Home yang dilampirkan dalam rilis pers, terungkap realitas tata ruang yang merepresentasikan keluarga di Asia Tenggara.
Ambil contoh fenomena kamar anak. Banyak keluarga berupaya menata kamar anak sedini mungkin dengan harapan tampilan estetik. Namun realitasnya? Ruang tersebut sering kali berubah fungsi menjadi area bermain, ruang belajar, hingga tempat penyimpanan, sementara sang anak justru masih lelap di kamar utama bersama orang tuanya. Di sisi lain, kamar utama orang dewasa kerap menjadi "korban" tumpukan pakaian, tas, dan barang pribadi akibat ketiadaan sistem penyimpanan yang mumpuni.
Pernyataan Ardan Hanafi, Country Home Furnishing & Retail Design Manager IKEA Indonesia, tepat pada sasarannya: "Kami tidak ingin orang terus menyesuaikan hidupnya dengan perabot. Justru perabot yang perlu mengikuti perubahan hidup mereka". Membuang barang yang memiliki nilai historis, memori, atau fungsi spesifik hanya demi mengejar estetika yang "bersih" rasanya tidak lagi relevan bagi keluarga modern yang dinamis.
Tidur Sebagai Produk Dinamika Sosial
Lebih jauh lagi, rilis pers ini menghadirkan analisis dari Wonderwhy SEA yang memandang aktivitas tidur tidak sekadar sebagai rutinitas biologis penutup hari. Bagi masyarakat Asia Tenggara, waktu istirahat adalah ruang yang harus direbut dari ritme kerja yang padat, kehidupan sosial, dan paparan layar gawai yang tiada henti.
Femina memandang bahwa cara sebuah keluarga beristirahat sangat dipengaruhi oleh seberapa tinggi tuntutan keseharian mereka. Jika area istirahat terasa berantakan, akar masalahnya belum tentu pada kemalasan penghuni, melainkan pada tata ruang yang gagal beradaptasi dengan ritme penghuninya. Oleh karena itu, kehadiran furnitur haruslah menjadi solusi yang meringankan beban fisik dan mental, bukan menambah kerumitan.
Penyimpanan: Strategi Beradaptasi, Bukan Sekadar 'Gudang'
Menariknya, solusi yang disodorkan IKEA, seperti sistem penyimpanan PAX yang adaptif, lini LASTARE, hingga pemanfaatan area vertikal, tak sekadar ditawarkan sebagai produk fungsional. Ini pendekatan psikologis terhadap penataan ruang. Ketika dinamika keluarga berubah, entah karena bertambahnya anggota keluarga atau perubahan pola kerja, ruang dan perabot harus mampu berevolusi tanpa memaksa penghuninya membuang hal-hal yang mereka hargai.
Ardan Hanafi di penghujung rilis pers menyebut, "Kami tidak ingin mendefinisikan rumah yang baik dari seberapa sedikit barang yang ada di dalamnya."
Kesimpulannya sangat membebaskan, bahwa rumah adalah ruang tempat kehidupan berproses, bukan sekadar etalase pameran yang kaku dan tak bernyawa. Tugas sejati sebuah desain interior bukanlah menyingkirkan barang, melainkan memastikan setiap cerita, aktivitas, dan kebutuhan esensial keluarga memiliki tempatnya masing-masing. (f)
Baca juga:
Mikael Jasin Membawa Omakafé Pulang ke Akar Lewat Season Terbaru
Seni Sebagai Wujud Pertukaran Bermakna Jadi Tema ArtMoments Jakarta 2026
Trifitria Nuragustina