Aku kembali ke pekerjaanku. Sekitar dua jam kemudian gadis itu muncul lagi, sambil menangis. Hampir aku tak mengenalinya karena ia berganti pakaian. Aku berlari ke bilik Panguian, tapi kudapati ia telah tiada. Lalu kami semua sibuk. Menjelang Panguian dimakamkan baru kusadari gadis itu tak terlihat sejak terakhir menemuiku. Lagi-lagi aku menanyakannya pada semua orang, dan seperti yang kau dengar, ia benar-benar menghilang ….”
“Ini pakaian yang dikenakannya saat itu?” tanyaku parau.
“Ya. Baju putih totol-totol merah. Ia juga memakai tongkat penyangga tubuh karena kakinya kecil sebelah. Baru jelas terlihat ketika ia muncul untuk kedua kalinya, saat memberi tahu Panguian wafat.”
Aku menggeleng, kutatap Georda.
“Bukan satu gadis yang kamu lihat, Georda. Tapi dua. Yang pertama memakai terusan putih dengan motif bulatan-bulatan merah. Yang muncul berikutnya bergaun biru dengan kerah putih, ia yang berkaki kecil sebelah. Mereka kembar, mereka anak-anak Panguian!”
PETANG TELAH luruh ketika aku tiba di makam Panguian. Berkalang kelam dan sunyi di dalam sana, ia buktikan dirinya bukan makhluk setengah bayangan dari balik kabut pemusnah harapan. Huru-hara akibat foto gadis-gadis kecilnya kucuri tak pernah terjadi. Namun tetap saja, tak ada kata maaf yang ingin kusampaikan.
Saat awan menyisi dan cahaya rembulan menerpa bumi Rui, ratusan Cricula trifenestrata muncul dari balik pepohonan. Seperti hujan daun kuning, mereka mengarungi malam dalam gerak mengapung yang luar biasa indah. (f)
Catatan:
sahila = sebutan untuk wanita setengah baya
meriposo oro = berasal dari bahasa Portugis, mariposa (ngengat) dan ouro (emas) untuk membedakannya dari ngengat rama-rama atau mariposa atlas***
Evi Indriani
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
Topic
#fiksifemina