Aku dan abangku adalah para pengampu gelar kebangsawanan Sultanah Dora Rui. Beratus tahun dipercaya rakiyat untuk memimpin dan menyemai berbagai kebajikan, kesultanan ini tak mudah dikoyak laju zaman. Ayah kami, sultan ke-22, berkomitmen penuh menjaga keberadaannya.
Apasa tak cuma bicara. Di tangannya modernitas dan kearifan lokal berjalan sejajar, saling menggenapi, saling menghormati. Jejak kerjanya tertatah di ngarai dan ladang, padang sabana, laguna rupawan, bahkan di tebing-tebing terjal. Namun, semua tak berarti saat ia menikah lagi, hanya lima bulan sebelum Mamasa tiada.
Dalam diam dan muram kami saling tolak dan pasang jarak. Rasanya benar-benar ganjil. Apasa seperti memindahkan kesedihan wanita itu ke puri kami. Hawa sukacita diisap habis olehnya. Wanita itu tak bahagia, dan tak akan pernah bahagia kukira.
Dari seorang among puri kuketahui ia pernah punya anak. Perempuan. Wafat di usia empat tahun. Inikah yang membuat sorot matanya padam? Cih. Apa peduliku?
Kukira ia perlu tahu sakitnya kehilangan hal berharga. Lagi pula, puri muram ini butuh kejutan. Maka, kucuri dua buah foto dari bilik pribadinya. Foto-foto anaknya. Aku ingin tahu, sanggupkah dua foto yang hilang menciptakan sedikit huru-hara? Sial, begitu kedua foto itu kugenggam, ia muncul di pintu. Kami sama-sama terkejut. Matanya nanap penuh curiga, segaris senyum mengambang kaku di wajahnya. Aku membuang muka, khawatir wajah merah padamku menjelaskan semuanya.
Jelas ini di luar rencana. Maka, membayangkan huru-hara itu benar-benar muncul dan menyeret namaku, aku tak berani lagi makan bersama mereka. Apasa tak pernah bertanya kenapa aku selalu makan sendiri, apalagi Panguian – istrinya itu.
Topic
#fiksifemina