MATA GEORDA mengerjap tak percaya saat selendang kulepas dari kepala. Wangi tanah basah naik ke teras rumah panggungnya, menautkanku pada segenap ingatan yang tak butuh kukenang.
“Sejak apasa-mu wafat dan Lasa Barra menjadi sultan,” kisahnya, “Panguian pindah ke bilik pribadinya. Penyakit diabetes terus menggerus staminanya. Ia lebih suka berada di dalam dan hanya keluar sesekali.”
“Namun pagi itu seluruh peladang meradang,” lanjut Georda. “Ribuan ulat meriposo oro yang kemarin masih bergerumbul melahapi dedaunan ditemukan bergelimpangan di tanah. Ngengat dewasanya sama saja. Semalam mereka masih tampak beterbangan, tapi pagi itu tak seekor pun tampak.
“Para peladang lalu minta izin bertemu Panguian. Maka kudatangi bilik, kuketuk pintunya. Itulah saat pertama aku bertemu gadis itu. Ia yang membukakan pintu.
Panik dan kehabisan kata, ia hanya sanggup menunjuk-nunjuk tempat tidur Panguian. Segera aku menghampiri. Panguian nyaris kehilangan kesadaran. Tubuh kurusnya menggigil, basah oleh keringat dingin. Jelas kadar gula darahnya anjlok.
Kubantu Panguian minum sirop. Dua puluh menit kemudian beliau pulih dan memaksakan diri untuk menemui para peladang. Saat itulah aku ingat gadis itu. Aku bertanya pada semua yang ada di sana, tapi tak seorang pun melihatnya. Terpikir untuk bertanya pada Panguian, tapi sehabis menemui para peladang beliau tidur.
Topic
#fiksifemina