“Kokon meriposo oro bisa dipintal jadi serat sutra dan dibuat semacam ini,” ujarnya, seraya menunjukkan sesuatu. Aku terenyak. Sebuah bros. Kuning kemilau, mewah memukau! Bagaimana mungkin?
“Selama ini cuma sutra ulat murbei yang dikenal di luar negeri, tapi sutra emas? Langka! Apalagi ngengat ini tak bisa diternak, harganya tinggi!” ocehnya lagi. Tiap katanya yang sarat kekaguman bertubi menghujamkan rasa geram.
Sejak itu ladang dengan pepohonan bertajuk ribuan ulat bulu nan rakus menjadi pemandangan menakjubkan. Saat itu alam tengah menjanjikan limpahan kokon emas sekaligus pembungaan yang lebih baik karena pohon berganti daun. Panen kokon dan panen buah berkejaran. Panguian, pualam tak tersentuh itu, dipuja dan dipuji. Apasa tak lagi diperhitungkan, apalagi aku dan abangku.
Aku tak tahan lagi, kuputuskan untuk kuliah di Pulau Jawa.
Topic
#fiksifemina