Meski Anumbar tetap bertegur sapa demi sopan santun, mereka hanya mengangguk sekadarnya. Kubah transparan bernama jarak telah mematahkan semangat Anumbar. Lebih baik dia menghindar. Dia bagai burung dari kelompok berbeda, tak mungkin bisa hinggap pada dahan yang sama. Tapi, Komala malah memutuskan untuk jongkok, mogok berjalan. Membuat Anumbar gemas.
Anumbar pun ikut jongkok, berusaha membujuk Komala. Wajah putih dengan mata bulat itu mengeras, bersiap melengkingkan jeritan. Akhirnya, Anumbar tidak sabar, ia meraih Komala dengan cepat dan membekap wajah anaknya di dada. Ia rasakan Komala menggelinjang-gelinjang ingin melepaskan diri. Melengkingkan rasa marahnya kepada Anumbar.
Tapi, Anumbar tidak memberi ampun. Buru-buru dia melangkah ke sembarang arah, yang penting jauh dari tatapan menghujam para pengunjung taman. Anumbar melangkah sepenurut kakinya. Ia nekat melintasi celah pagar yang roboh dan ditumbuhi tanaman menjalar. Sebuah lahan tidur penuh semak dan rumput membuat ia melepaskan bekapannya pada Komala.