Fiction
Cerpen: Ombak dan Layang-Layang Ekor Panjang

2 Jun 2017



Komala sempat bersikeras tetap ingin bermain di taman. Dia terlihat cemburu melihat beberapa anak sebayanya berlarian di atas rerumputan. Matanya mulai berlinangan saat Anumbar mengentak lengan gadis cilik itu agak keras, karena Komala bersikeras ingin bermain ayunan. Tentu saja Komala tidak mengerti, bahwa beberapa wanita di taman menatap mereka seperti orang asing yang tersesat.

Meski Anumbar tetap bertegur sapa demi sopan santun, mereka hanya mengangguk sekadarnya. Kubah transparan bernama jarak telah mematahkan semangat Anumbar. Lebih baik dia menghindar. Dia bagai burung dari kelompok berbeda, tak mungkin bisa hinggap pada dahan yang sama. Tapi, Komala malah memutuskan untuk jongkok, mogok berjalan. Membuat Anumbar gemas.
Advertisement

Anumbar pun ikut jongkok, berusaha membujuk Komala. Wajah putih dengan mata bulat itu mengeras, bersiap melengkingkan jeritan. Akhirnya, Anumbar tidak sabar, ia meraih Komala dengan cepat dan membekap wajah anaknya di dada. Ia rasakan Komala menggelinjang-gelinjang ingin melepaskan diri. Melengkingkan rasa marahnya kepada Anumbar.

Tapi, Anumbar tidak memberi ampun. Buru-buru dia melangkah ke sembarang arah, yang penting jauh dari tatapan menghujam para pengunjung taman. Anumbar melangkah sepenurut kakinya. Ia nekat melintasi celah pagar yang roboh dan ditumbuhi tanaman menjalar. Sebuah lahan tidur penuh semak dan rumput membuat ia melepaskan bekapannya pada Komala.
 
***
 


Topic

#FiksiFemina

 


MORE ARTICLE

polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?