“Kau sudah akan menikah sekarang. Lebih baik kau lupakan saja semua yang sudah berlalu.”
“Aku ke sini tidak untuk mendengar nasihatmu. Aku butuh jawaban jujurmu, biar aku bisa merasa tenang,” sergahku, memutus ucapannya.
“Tidak ada yang harus dijawab. Sebab, dari dulu sampai sekarang pun, di antara kita tak pernah ada apa-apa,” tuturnya, dengan suara datar.
Aku terpukul mendengar ucapannya. Teganya dia mengatakan itu.
“Kalau begitu, mengapa kau gelisah saat bertemu lagi denganku?” tantangku marah. “Aku datang ke sini, sudah tak berpikir soal harga diri atau gengsi lagi. Sebab aku hanya ingin tahu yang sebenarnya.”
“Kalaupun aku pernah menyukaimu, itu hanya rasa suka anak SMA. Kupikir, itu tak perlu dikenang-kenang lagi,” katanya, dengan nada tegas.
“Oh, iya. Aku memang berlebihan, menganggap cinta monyet itu sebagai cinta sejati. Makanya, selama sepuluh tahun aku terus-menerus mengingatmu. Tapi, aku tak malu mengakui itu kepadamu. Sebab aku yakin, tak ada yang salah di situ,” balasku berapi-api di antara air mataku.
“Tiap hari selama sepuluh tahun, aku tak berhenti berharap, bahwa aku akan bertemu denganmu di jalan, di gereja, atau di mana saja. Sekarang aku sudah bertemu denganmu, tapi rupanya supaya aku sadar bahwa aku cuma bermimpi,” lanjutku dengan hati pilu.
“Itu memang cinta masa SMA. Tapi, sejak saat itu sampai sekarang, aku belum sepenuhnya melupakanmu,” suaranya berat dan lambat, membuat pengakuan yang telah kutunggu selama sepuluh tahun.
Aku menangis lagi. Sepuas hati, makin keras dan pilu. Alangkah kejamnya nasib, mempermainkan dua orang yang saling mencintai, dengan cara seperti ini. Siapakah yang diuntungkan, jika kami tak berjodoh? Apa masalahnya, sehingga kami tak bisa bertemu sejak dulu?
Dia diam saja. Tak menenangkanku, tak memegang tanganku. Padahal, aku ingin dia memelukku, mengatakan bahwa dia mencintaiku dan sangat sulit baginya melewati begitu banyak tahun, tanpa sekali pun bertemu denganku.
Aku memandangnya dari sela air mataku. Dia bersandar ke kursi sambil memejamkan matanya. Aku ingin tahu apa yang sedang dipikirkannya. Adakah dia sedang berjuang untuk memintaku meninggalkan calon suamiku, atau hendak mengatakan supaya aku melupakannya saja?
Dia tak mengatakan apa-apa. Badannya tetap bersandar. Matanya tetap terpejam. Tangannya terlipat di atas meja. Begitulah posisinya sampai aku pulang.
.*******.
Topic
#fiksifemina