Kukenal dia melalui sepupuku, yang juga satu sekolah denganku. Suatu hari dia mengajak Tigor, teman sebangkunya, berkunjung ke rumahku untuk membantu memperbaiki radio, yang meski sudah berhari-hari diutak-atik, tak juga mengeluarkan bunyi. Ternyata, dia hanya butuh waktu lima belasan menit, untuk membuat radio itu berbunyi. Entah bagaimana dia melakukannya, aku tak tahu. Yang jelas aku takjub setengah mati dan berulang-ulang mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia membalasnya hanya dengan senyuman, tanpa menambahinya dengan kata-kata lain.
Aku sudah melupakan jasanya memperbaiki radioku, ketika beberapa minggu setelah itu, aku merasa ada orang yang sedang mengamat-amati aku di sekolah. Aku tidak ingat persis bagaimana aku bisa tahu. Yang jelas, suatu hari aku tahu bahwa dialah pelakunya.
Aku ingat, sejak menyadari bahwa dialah yang sering mencuri-curi pandang, aku selalu berdebar-debar, dan kakiku terasa berat untuk dilangkahkan, tiap kali melintasi kelasnya menuju kelasku. Biasanya aku akan menundukkan kepala dalam-dalam, sebab aku malu kalau sampai menegakkan wajah, dan mendapati dia sedang memandangiku. Pernah suatu pagi aku begitu gugup, ketika dari gerbang sekolah aku sudah melihat dia duduk di teras kelasnya. Hampir kutabrak sebuah tiang, hanya karena aku tak sanggup mengangkat kepala, pada saat melintasi kelasnya. Rasanya malu luar biasa. Kubayangkan dia terbahak melihat kegugupanku itu.
Lalu suatu hari, kami sama-sama lulus SMA.
Saat itu aku tak tahu, bahwa aku juga berhak untuk lebih dulu menyapanya, lalu mengatakan bahwa aku jatuh cinta padanya. Satu pilihan yang ternyata harus kubayar dengan penyesalan selama bertahun-tahun.
Di depan sekolah, ketika sedang menunggu angkutan umum, aku melihatnya menaiki angkot. Dengan mata berair, kupandangi sosoknya yang kurus untuk terakhir kali. Ketika angkot itu berjalan perlahan, dia menoleh ke belakang melalui kaca dan mata kami saling bertatapan. Aku ingin sekali melambaikan tangan, menyuruh dia turun dari angkot, supaya kami bisa bicara. Tapi keberanianku tak cukup.
Aku lalu masuk universitas dan bertemu dengan lebih banyak lagi lelaki. Beberapa kali aku jatuh cinta. Sayangnya, kehadiran mereka tak mampu mengenyahkan ingatanku kepadanya. Jadilah, di saat aku jatuh cinta pada pria-pria itu, aku juga tetap terkenang-kenang kepadanya. Alhasil, aku tak juga berpacaran dengan seorang pria pun. Sebab, ketika dibanding-bandingkan, hatiku tetap memilih untuk hanya mencintai dia, bukan pria lain. Bahkan walaupun sampai saat itu, dia tidak riil terlihat mataku, dan hanya hadir dalam angan dan pengharapanku saja.
Itulah awalnya mengapa akhirnya kuputuskan untuk menganggap diriku sebagai kekasihnya. Biarpun dia tak tahu, aku memutuskan untuk setia kepadanya dan menunggu dengan sabar hari pertemuanku dengannya.
.***.
Topic
#fiksifemina