Tiap hari sekarang berjalan lambat. Terlalu lambat. Aku ingin cepat bertemu Minggu sore, supaya aku bisa menghadiri kelas konselingku.
Calon suamiku makin sering meneleponku. Pasti dia takut kalau aku jadi mendua. Pikiranku memang bercabang sekarang. Aku mencintai calon suamiku, tapi aku juga merindukan bertemu dengan pendeta itu.
Ternyata, bukan dia yang memberi konseling minggu ini. Aku gundah, tapi calon suamiku lega.
Minggu ketiga juga bukan dia, juga bukan pemberi konseling di minggu kedua. Rupanya, ada empat pendeta berganti-ganti tiap minggu. Aku hampir meledak rasanya.
Bulan kedua minggu pertama. Akhirnya gilirannya tiba lagi.
Dia tak gugup, tak gelisah, tapi menghindari melihat ke arahku. Malah calon suamiku yang gelisah dan bolak-balik mencolek tanganku, yang sibuk mengotori kertas dengan coretan pulpen. Sepanjang diskusi, aku merasa otakku hampa dan telingaku tersumbat. Mulutku terkunci rapat, meski suara-suara di sekitarku begitu riuh bertukar pendapat. Satu-satunya yang kurasakan bekerja adalah jantungku yang terus-menerus berdetak tak beraturan, bahkan kadang-kadang seakan hendak melompat keluar dari tubuhku.
Cepat sekali waktu berlalu. Kelas konseling akhirnya usai. Dia akhirnya berlalu setelah mengucapkan, “Sampai jumpa di pertemuan berikutnya.” Dari balik punggung calon suamiku, aku memandang kepergiannya dengan pilu.
Pasti aku sebenarnya masih mencintai dia. Sebab, setelah bertemu kembali dengannya, aku tak sanggup berhenti memikirkan dia. Mimpi-mimpiku hampir semuanya tentang dia. Dia memanggil-manggilku, aku melihatnya menikah dan entah apa lagi. Aku merasa berdosa pada calon suamiku. Aku tahu, aku sudah menduakan dia. Tapi, aku tak mampu untuk tak terkenang-kenang pada Tigor. Aku bingung. Aku sedih.
Seperti ada bom yang hendak meledak di jantungku. Membuatku tak tahan untuk tak menemui dia. Kali ini, aku tak akan berdiam diri seperti dulu. Sudah saatnya untuk aktif, mencari tahu apakah dia masih cinta padaku atau tidak.
Jam dua belas siang di esok harinya, aku datang ke kantor gerejanya. Kudapati dia sedang duduk membaca. Ada seorang lain yang juga duduk di situ. Jelas kulihat dia terkejut melihatku. Aku sendiri gemetar dan tiba-tiba menyesal atas kenekatanku. Tapi, semua sudah telanjur.
“Pak Pendeta, bolehkah bicara berdua saja?” Aku bertanya pelan, supaya dia tak mengenali getar dalam suaraku.
“Tentu. Kita ke dalam saja,” katanya, sambil menunjuk ke ruangan lain.
Kami duduk berhadapan dipisahkan meja. Aku mulai merasa bermimpi. Aku berjuang menguasai gejolak hatiku. Kubulatkan tekad. Hari ini semua harus selesai.
“Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” Suaranya canggung dan resmi. Aku sedih dan benci mendengarnya. Tak tahukah dia, bahwa saat ini aku hanya ingin mendengar pernyataan cintanya yang tertunda sekian lama?
“Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk mencarimu,” ujarku tanpa basa-basi.
Dia tercengang. Mukanya memerah.
“Apa kau sudah menikah?” kejarku lagi. Dia menggeleng. Tak mengatakan apa-apa. Mataku mengejar kedua matanya, tapi dia selalu menghindari bertatapan langsung.
“Aku mencarimu di reuni, di situs alumni. Aku menanyai semua kawan-kawanku tentang dirimu. Aku menanyai sepupuku. Tapi, tak ada satu orang pun yang tahu. Ternyata kau di sini, Pak Pendeta,” kataku sedih.
“Apa kau pernah mencariku?” Aku bertanya lagi, memuaskan rasa ingin tahuku.
Dia mulai memandangku, kurasakan matanya sesedih mataku, wajahnya selelah wajahku. Tapi, tak dikatakannya apa-apa.
“Kau tidak mau bicara denganku, ya? Sebentar lagi aku menikah. Aku hanya ingin tahu, apakah selama sepuluh tahun itu, aku cuma menjadi orang bodoh yang bertepuk sebelah tangan dan membuang waktu dengan sia-sia,” sambungku putus asa. Aku mulai menangis.
Topic
#fiksifemina