Dia berbicara lagi, tapi aku sudah tak bisa mendengar dengan jelas, apa yang diucapkannya. Yang bisa kudengar hanyalah degup jantungku yang dipalu begitu keras. Lalu dia duduk di bangku depan, menghadap ke arah kami. Ternyata, dialah yang akan memberi konseling.
Aku merasa sangat gugup. Kutundukkan wajah sedalam mungkin, agar dia tak bisa melihat, betapa pucat wajahku.
Aku terkejut ketika sebuah tepukan mampir di bahuku. Rupanya calon suamiku yang melakukannya.
“Kau kenapa? Bapak Pendeta bertanya siapa namamu,” bisiknya dengan nada heran.
Selama sepuluh tahun aku kelelahan mencarinya. Hari ini, setelah tanpa sengaja menemukannya, ternyata aku harus memanggilnya Bapak Pendeta. Refleks kuangkat wajah, memandang ke arah Bapak Pendeta itu.
Pasti hanya beberapa detik berlalu, ketika mata kami bertemu dan dia menyadari bahwa dia mengenalku. Aku yakin itu, sebab mulutnya memang tak mengatakan apa-apa, tapi wajahnya berubah, matanya berubah. Wajah kami menjadi sama, mata kami menjadi sama. Wajah orang yang merindu, mata orang yang merindu.
Sayang hanya sebentar kesamaan itu. Dia lebih mampu menguasai diri. Dia kembali tenang, seperti sebelum melihatku. Wajahnya berubah, matanya berubah. Aku terluka.
Sampai konseling bubar, pendeta itu tidak menanyakan ulang, siapa namaku.
Topic
#fiksifemina