
Menginjakkan kaki ke Eiffel, tak afdal rasanya jika tak mengambil foto diri kita dengan latar menara ikonis Kota Paris itu. Sebetulnya, sudah jamak saat traveling, di mana pun itu, kita ingin mengabadikan tempat yang kita datangi, dan ada foto diri kita dengan setting destinasi kota tersebut. Belum lagi, momen-momen seperti saat hang out dengan teman, reuni, arisan, acara kantor, ketemu idola, saat berolahraga, dan momen seru lainnya. Serajin-rajinnya kita memotret, ada momen-momen tertentu yang tak bisa kita foto sendiri. Terutama jika itu menyangkut ‘muka’ kita dalam foto tersebut. Kita membutuhkan bantuan orang lain. Dalam bahasa gaul, istilahnya ‘tongsis’, kepanjangan dari, “Tolong, dong, Sis!”
Bagi artis seperti Dimas Beck, update Instagram adalah sebuah kebutuhan. “Zaman sekarang, media sosial adalah media untuk berinteraksi dengan fans, yang sifatnya real time. Lagi pula, saya tidak mau ketinggalan dari teman-teman saya yang foto-fotonya bagus-bagus,” tutur Dimas, pemeran serial televisi Bukan Bintang Biasa.
Untuk mengakomodasi kebutuhannya akan update tersebut, ia tak segan-segan membuat foto selfie. Tapi, untuk event-event tertentu, atau foto bertema outfit of the day (OOTD), ia lebih sering meminta asistennya untuk memotret. “Biasanya, asisten saya sudah membawa kameranya sendiri,” jelas Dimas, yang memiliki lebih dari 1 juta followers di Instagram.
Di mana lokasi favorit Dimas untuk berfoto? “Biasanya di restoran, di mobil, di rumah, di tempat syuting, atau saat jalan-jalan,” tutur Dimas.
Terbiasa difoto oleh orang lain membuat Dimas tak segan-segan untuk menawarkan diri membantu memotret orang lain. “Saya malah sering diminta untuk fotoin orang. Bisa siapa saja, ada orang yang kebetulan saya kenal di restoran, mereka sedang kumpul rame-rame dan ingin foto bareng, saya yang nawarin untuk motretin. Dengan catatan, jika pelayan restorannya sedang tak terlihat,” ujarnya.
Dimas mengamati, belakangan ini tak sedikit juga para pengunjung restoran yang meminta tolong kepada pelayan resto untuk memotret. “Sekarang tampaknya terjadi perubahan besar, orang yang janjian bertemu datang ke restoran pasti ada kebutuhan ingin berfoto. Makanya, pelayan restoran harusnya kriterianya selain paham soal service, juga harus bisa memotret.”
Profesi sebagai pengajar yoga membuat Astrid Amalia rajin mendokumentasikan aktivitasnya. “Selain untuk dokumentasi dan update media sosial, saya perlu memotret pose yoga untuk mengevaluasi gerakan tubuh,” tutur Astrid, yang selalu meminta izin kliennya, sebelum foto tersebut di-post.
Mengajar sambil memotret bukanlah sebuah beban baginya. “Justru, kalau klien ingin difotoin, saya akan dengan senang hati melakukannya. Karena, ada manfaat viral. Jika ada orang yang melihat foto tersebut, dan penasaran bertanya-tanya, siapa gurunya, dia akan merujuk ke saya,” ujar Astrid.
Namun demikian, tak semua orang rela hati dengan urusan potret-memotret ini. Arlita, misalnya. Ia mengatakan, ketika ia mengikuti tur perjalanan ke beberapa kota di Eropa bulan lalu, ia merasa terganggu dengan beberapa teman dalam rombongannya yang bolak-balik minta difotoin.
“Begitu melihat objek foto yang bagus, dia akan langsung menyodorkan kameranya ke saya. Sekali dua kali, saya masih happy melakukannya. Tapi, setelah berkali-kali, saya mulai capek dan kesal,” keluhnya. Menurut Arlita, permintaan temannya terkadang bukan hanya foto, melainkan video juga, dan terkadang ada adegan yang perlu diulang. “Padahal, saya kan juga ingin menikmati perjalanan. Namanya juga liburan,” kata Arlita, yang mengaku dirinya terlalu segan meminta tolong kepada orang lain untuk memotretkan. Sebagai teman perjalanan, Arlita merasa diperlakukan sebagai ‘human selfie stick’ oleh temannya.
Hal senada juga diakui Prima (30). Saat bertugas di sebuah pameran, Prima juga punya pengalaman kurang menyenangkan. Ketika itu, Prima menjadi penanggung jawab talk show. Ia yang sedang berjalan terburu-buru, tiba-tiba disetop oleh dua orang wanita di depan salah satu booth pameran.
“Mbak, boleh minta tolong, fotoin kami. Oh ya, kalau bisa dari segala angle. Dari yang close up, yang jauh, yang kelihatan candid sedang ngobrol, sama yang pose. Mimiknya harus lagi bagus, ya,” tutur Prima, menirukan permintaan wanita tersebut. Prima yang sedang panik, terbengong-bengong mendengar permintaan tolong yang begitu detail. Dia pun dengan halus menolaknya. (f)
