Sagu Subut terinspirasi Nasi Subut dari Kalimantan Utara, memadukan mutiara sagu bersama ubi jalar dan jagung manis. Foto: Dok. Tamu
Meski nasi yang dimasak dari beras sudah ribuan tahun jadi sumber karbohidrat utama kita, sebenarnya beras (atau padi) bukan bahan pangan asli Nusantara.
Sagu, yang lebih populer sebagai bahan pangan di wilayah timur Indonesia, justru bahan pangan endemik Indonesia, yang memang belum banyak mendapat tempat di meja makan sehari-hari, bahkan di wilayah asalnya.
Padahal sagu bukan sekadar sumber karbohidrat, melainkan bagian dari tradisi, identitas, dan cara hidup yang diwariskan lintas generasi.
Semangat untuk mengangkat kembali bahan pangan lokal inilah, antara lain menjadi hidangan lezat berkelas, yang dibawa TAMU bersama JAVARA melalui program Sago & Spice.
Di dua hari pertama, inovasi dan kreasi bahan pangan lokal dari UMKM binaan Javara bisa didapatkan di Tamu. Foto: Dok. Tamu
Berlangsung pada 16-22 Oktober 2026 di restoran Tamu, Jakarta, program ini mengajak pengunjung mengenal kembali sagu dan rempah Nusantara melalui pengalaman bersantap, kelas memasak, eksplorasi rasa, serta pasar pangan lokal.
Sagu menjadi sorotan utama bukan tanpa alasan. Sebagai bahan pangan yang telah lama menopang kehidupan masyarakat di Indonesia timur, sagu memiliki posisi penting dalam sejarah kuliner Nusantara.
Namun, ketika beras semakin dominan sebagai makanan pokok di banyak wilayah Indonesia, sagu semakin jarang hadir dalam percakapan kuliner sehari-hari di luar daerah asal tradisinya.
Melalui kolaborasi ini, Tamu dan Javara ingin menunjukkan bahwa kekayaan pangan Indonesia tidak berhenti pada bahan-bahan yang sudah populer. Ada bahan lokal, pengetahuan tradisional, dan praktik kuliner daerah yang juga perlu terus dikenalkan agar tetap hidup.
Kaldu Kokot yang terlihat sederhana adalah contoh masakan Indonesia yang kaya rempah. Foto: Dok. Tamu
Di acara pembukaan Sago & Spice, makan malam Femina dimulai dengan kisah menyentuh tentang sagu. Pemuda Ternate yang merantau jauh terkejut ketika pulang kampung—hutan sagu nyaris menghilang, berganti sawah ditanam padi.
Kebiasaan makan bersama tiap Jumat malam di tengah keluarga di sana menempatkan nasi sebagai hidangan bergengsi. Sagu, yang diolah jadi papeda atau popeda, kalah pamor.
Tapi itu dulu. Kini, dalam satu dekade terakhir, olahan sagu pelan-pelan mulai kembali jadi tuan rumah di meja makannya sendiri. Banyak kafe berdiri di Ternate menawarkan santap malam istimewa tiap Jumat, dengan menu utama popeda dalam sajian lebih luks.
Popeda pun sudah dieksplorasi menjadi makanan siap saji yang bisa diekspor, tanpa meninggalkan cita rasa khasnya.
Aneka kerupuk, dan Popeda Kuah Kuning, menggambarkan sagu mulai kembali jadi tuan rumah di meja makannya sendiri. Foto: Dok. Femina
Femina mencoba Popeda Kuah Kuning—bubur popeda ditemani Ikan Kuah Kuning yang kaya rempah menjadi perjalanan rasa tersendiri.
Menu di jamuan Sago & Spice sendiri, racikan Chef Alnico Andreas dan Chef Andrew Karmajana, juga menampilkan sagu sebagai teman makan dalam beragam cara.
Sagu Subut dari Kalimantan Utara diperkenalkan sebagai alternatif nasi. Mutiara sagu dimasak bersama jagung manis dan ubi jalar, menghasilkan pilihan karbohidrat yang penuh rasa.
Sagu Subut menggugah selera saat dipadukan lauk seperti Kepiting Santan Asam Pedas, reinterpretasi masakan Melayu, yang diperkaya andaliman dan garam rumput laut dari Javara.
Kepiting Santan Asam Pedas dan Tumis Mandai. Foto: Dok. Tamu
Ditemani Tumis Mandai pun Sagu Subut cocok. “Tumis ini merupakan kulit cempedak fermentasi dari Kalimantan Selatan selama 6 bulan, dilengkapi daun kunyit aromatik,” jelas Chef Andrew Karmajana.
Untuk hidangan berkuahnya, Sago & Spice menyajikan Kaldu Kokot khas Jawa Timur berisi iga dan kaki sapi yang dimasak perlahan bersama pala serta cengkih. Menyeruput kuahnya jadi kenikmatan tersendiri karena cita rasa kaldu dengan bumbu rempah yang menonjol.
Tersedia pula aneka kerupuk berupa Rempeyek Bayam, Belut Goreng, hingga Keripik Melinjo Teki yang rasanya mirip emping, tapi dengan tampilan jauh berbeda, untuk kamu yang suka permainan tekstur dalam bersantap.
Sebagai penutup, Bubur Sumsum asal Jawa mendapat interpretasi baru, yang dibuat dengan sagu. Dessert ini juga diberi tambahan boba dengan infusi bunga telang yang dibuat Seniman Pangan, gerakan gastronomi yang diinisiasi Javara.
Bubur Sumsum telah ada sejak Kerajaan Majapahit, dan di era kolonial sempat jadi makanan rakyat karena keterbatasan bahan pangan. Boba biru berasal dari infusi bunga telang. Foto: Dok. Femina
Sago & Spice mengajak kita melihat bahwa bahan pangan Indonesia memiliki karakter dan potensi yang dapat dieksplorasi melalui teknik memasak serta perpaduan rasa yang berbeda.
Sagu bisa jadi pengganti nasi yang tetap menggugah selera, dan rempah bukan sekadar pelengkap, tetapi juga dapat membangun aroma, tingkat kepedasan, keasaman, rasa manis, hingga umami dalam hidangan.
Kolaborasi Tamu racikan bersama Javara ini memantik kita untuk tak hanya membicarakan makanan tradisional sebagai peninggalan masa lalu.
Menjaga identitas kuliner—dan gastronomi—Indonesia adalah memastikan keragaman pangan Nusantara bisa terus dieksplorasi, dan mendapat tempat di meja makan lebih banyak lagi. (f)
Baca juga:
18 Menu Baru TAMU Menjelajahi Rasa dari Aceh hingga Lombok
Kenangan Rasa Chef Martin Praja dalam Kolaborasi dengan Noesaka
A Nusantara Story di Park Hyatt Jakarta Menghadirkan Kolaborasi dengan Chef Norman Ismail
Zornia Harisantoso
Topic
#kuliner


