Food Review
Di BanJoo, Kita Diajak Kembali ke Meja Makan Menikmati Soul Food Modern Korea

10 Jun 2026

Camilan yang menyiapkan palet rasa kita ke hidangan makan siang: Spicy Tuna Tartare, Korean Chips (Seaweed, Lotus), Truffle Potate Jeon. Foto: Dok. Femina, Dok. BanJoo
Menu pembuka dengan narasi tersendiri: Arong Beef Sooyuk, Bulgogi Chamnamul Salad, Abalone Gamte. Foto: Dok. BanJoo, Dok. Femina
Menu pembuka yang menggugah lidah: Rosé Baby Octopus Tokpoki (sausnya delectable banget) dan Anchovy Chicken. Foto: Dok. BanJoo
Makgeolli Classic yang jadi favorit Kim Seon-ho saat di sini; Hotok & Black Sesame Ice Cream yang enak. Foto: Dok. BanJoo, Dok. Femina
Konsep BanJoo juga terinspirasi Jogakbo, kain perca tradisional Korea, melambangkan kebersamaan dalam harmoni. Foto: Dok. BanJoo
Berapa kali kamu makan bareng anggota keluarga dalam seminggu terakhir?

Kehangatan menikmati hidangan sambil ngobrol tentang aktivitas masing-masing adalah momen berharga di banyak budaya, seperti di Indonesia dan Korea.

Kesibukan para manusia urban memang membuat kita jarang menghabiskan waktu di meja makan bersama keluarga atau menjamu teman-teman.

Kenangan masa kecil di Wina, Austria, ketika sang ibu mengundang komunitas diplomat di Wina menikmati hidangan Korea jadi pemantik Chef Narae Hahn mendirikan BanJoo, restoran Korea kontemporer di Kompound, Jakarta Selatan.

Dalam Bahasa Korea, “Ban” berarti meal atau santapan, dan “Joo” berarti minum. BanJoo merefleksikan budaya Korea yang berkumpul di satu meja (makan), berbagi makanan, percakapan hangat, dan momen berkesan bersama.

Chef Narae Hahn, yang memiliki beberapa resto di Seoul dengan berbagai konsep, menghidupkan budaya makan beramai-ramai yang akrab di BanJoo, dengan sajian soul food modern Korea.

Woodae Galbie Steak yang lembut berbumbu, dagingnya dimarinasi selama 16 jam; Gochujang Butter Bibimbab dengan barley rice dan saus gochujang dari stroberi. Foto: Dok. BanJoo

Hampir semua bumbu ia olah dari nol, seperti kecap asin. “Sebisa mungkin saya memakai gula dari buah-buahan seperti plum dan apel,” jelas Chef Narae.

Femina mencicipi beberapa andalan dari chef cantik yang menggubah hidangan Korea yang kita kenal menjadi lebih elevated namun tetap familiar dalam acara makan siang yang hangat.

Sambil menanti makanan disiapkan, Femina mencoba camilan ringan yang lezat. Ada Korean Chips yang renyah (Lotus yang tidak asin dan Seaweed), Spicy Tuna Tartare yang gurih dan sedikit pedas, dan Truffle Potato Jeon yang nagih.

Sebagai hidangan pembuka, Chef Narae menyajikan Abalone Gamté, Bulgogi Chamnamul Salad, Rosé Baby Octopus Tokpoki, Anchovy Chicken, dan Arong Beef Sooyuk.

Abalone Gamté adalah sajian mi dingin dengan abalone yang lembut dan Job's tears (serelia sejenis barley). Gamté adalah mi yang dibuat dari rumput laut di musim dingin. “Hanya ada selama 3 bulan,” kata Chef Narae.

Abalone di BanJoo diambil dari Wando, perairan yang alami dan kaya nutrisi, dengan rumput laut berkualitas tinggi. Karena rumput laut adalah makanan abalone, maka Abalone Gamté seperti cerita sebuah rantai makanan sekaligus homage untuk kekayaan laut Korea.

Dan rasa Abalone Gamté saat dimakan memang begitu umami, yang menurut Chef Narae, “Mix of the whole ocean.” Nyam!

Chef Narae Hahn telah 11 tahun tinggal di Indonesia dan pernah memasak untuk tamu kenegaraan di Istana Negara, Jakarta. Foto: Dok. BanJoo

Sementara Arong Beef Sooyuk adalah gubahan Chef Narae dari hidangan kerajaan. Kekuatannya ada pada kaldu yang menyiram semua rebusan–daging sapi, jamur dan sayur-sayuran.
Advertisement

“Hidangan kerajaan cenderung tidak berbumbu terlalu kuat, karena anggota keluarga kerajaan tidak boleh sakit perut,” cerita Chef Narae, yang langsung bikin kita teringat drakor Bon Appétit, Your Majesty.

Setelah pembuka, hidangan utama hadir untuk dinikmati bersama. Ada Gochujang Butter Bibimbab yang enak dan lembut–nasinya adalah barley rice, dan saus gochujang dibuat Chef Narae dari stroberi Korea. So yummy!

Selanjutnya adalah Woodae Galbi Steak yang sulit ditolak (daging dimarinasi selama 16 jam), begitu pula Doenjang Pasta. Doenjang Pasta yang menginjeksikan pengalaman Chef Narae besar di Eropa ini diberi topping bayam dan pine nut (“kacang sultan”). Rasanya gurih dengan sedikit manis.

Bulgogi Perilla Pasta jadi hidangan utama terakhir. Diperkaya bubuk perilla yang memberikan cita rasa creamy, pasta ini sungguh menggugah lidah.

Hidangan pasta gaya Korea yang kaya rasa: Doenjang Pasta (dengan bayam dan pine nut); Bulgogi Perilla Pasta yang creamy. Foto: Dok. Femina, Dok. BanJoo

Makan siang diakhiri dengan Hotok & Black Sesame Ice Cream. Hotok atau hotteok, kue beras jajanan khas Korea di musim dingin yang crispy sekaligus chewy, disajikan dengan es krim homemade–paduan rasa manis sebagai penutup sempurna.

Buat yang suka makgeolli, Makgeolli Classic di BanJoo boleh dicoba–rasanya cukup nendang. Kata Chef Narae, Kim Seon-ho menghabiskan tiga gelas di sini saat fan meeting April lalu. 

Tak sabar untuk kembali lagi ke meja makan ini! (f)

BANJOO
Kompound
Jln. Wolter Monginsidi No.6
Jakarta Selatan

Jam operasional:
Senin-Sabtu: 11.00-22.00 WIB
Minggu: 10.00-21.00 WIB

Baca juga:
Mulai Juni, Animale Kembali Sajikan Sunday Roast
Di Sugar & Spice, Warisan Kuliner Jalur Sutra Jadi Menu Sabtu Malam
Menu Baru dan Favorit di Burger & Lobster Jakarta Siap Rayakan World Burger Day Tahun Ini

 

Zornia Harisantoso


Topic

#koreancorner, #kuliner

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?