Popularitas aksesori berbasis batu mulia sempat naik tajam beberapa tahun lalu. Ingat euforia batu akik yang sempat tren? Reny berpendapat, sebetulnya batu –dalam hal ini batu mulia– memang sedang naik daun. Akan tetapi, beberapa batu yang berjenis precious stone, harganya tidak terjangkau. Maka, batu-batu yang harganya lebih affordable, salah satunya akik atau agate, yang harganya bisa mulai dari ribuan rupiah saja, pun akhirnya jadi pilihan di kalangan para pria.
Bagaimana dengan wanita? Apakah wanita juga terpengaruh oleh demam batu-batuan ini? Reny menjawab, sejak dahulu kala, perhiasan adalah sahabat para wanita. Memang, ada tren perhiasan yang mengalami pergeseran. “Dulu, 17 tahun lalu, ketika saya baru memulai bisnis, perhiasan dari emas kuning yang dicari. Tahun 2000-an mulai bergeser, yang kuning itu jadi putih. Semua inginnya diputihin. Lantas kuning itu dianggap norak,” ujarnya.
Reny lalu menambahkan, di era itulah mutiara mulai digemari. “Dulu, kiblat trennya adalah Italia dan Hong Kong. Rasanya bangga banget kalau bisa mengenakan perhiasan buatan Italia dan Hong Kong, atau yang modelnya mengacu pada tren di sana,” paparnya.
Tren yang sederhana dan klasik itu kemudian berubah lagi. Menurut Reny, sekitar tahun 2008, ibu negara waktu itu, Ani Yudhoyono, memopulerkan pemakaian perhiasan Nusantara. Hingga akhirnya muncullah perhiasan Sumatra Barat, Lampung, Papua, Nusa Tenggara Timur, dan sebagainya. “Coba kalau 10 tahun lalu, enggak ada orang yang mau memakai perhiasan Nusantara. Mungkin hanya kalau dia jadi pengantin saja,” cetus Reny.
Memang, wanita lebih mementingkan estetika sebuah batu dalam bentuk perhiasan. Itulah kenapa, desain menjadi faktor penentu apakah seorang wanita mau mengenakan batu sebagai elemen aksesorinya. “Namun belakangan ini, perhiasan tak lagi menjadi primadona seperti dulu karena orang lebih melirik tas merek premium,” tutur Reny.
Seorang pengguna aksesori batu, Lisa Alfariani, mengatakan, ia ditulari kecintaan pada aksesori batu ini dari suami. Sejak lama suaminya sudah menggemari batu. Bahkan sejak duduk di bangku SMP. "Suami sering mengajak saya hunting batu ke Pasar Rawabening. Meski sudah sering melihat-lihat batu, saya masih belum tertarik dan tidak terlalu paham tentang batu-batu berharga itu. Bahkan, batu di cincin hadiah dari suami yang saya kenakan pun, saya tak tahu namanya. Yang saya tahu, warnanya merah menyala agak keungu-unguan," ungkapnya.
Lisa sendiri tertarik dengan batu-batuan berwarna. Warna yang ia sukai adalah warna merah, oranye, atau ungu. "Indah, sih, tapi saya sempat protes ke suami, “Apaan, nih, batunya gede banget. Kayak dukun, ah!” Terus terang, saya hanya terpikat pada warnanya. Sejak diberikan kepada saya, cincin batu tersebut hanya saya simpan selama dua tahun sampai kemudian saya memutuskan untuk memakainya tiap hari," ujar Lisa.
Penggemar batu yang lain, Michelle Anugerah, punya alasan lain. Dari kecil, ia memang sudah senang pada batu-batu mulia. Sebab, kebetulan, neneknya dulu pernah jual beli perhiasan. Michelle tahu betul mana batu yang bagus dan tidak. "Dulu, waktu kuliah, saya sering memakai 2 sampai 3 cincin ditumpuk-tumpuk di satu jari. Sekarang, sudah tidak pernah lagi, hanya kalau ada acara khusus saja," tuturnya.
Michelle sendiri menyukai batu yang berwarna hijau karena kesannya adem dan terlihat mewah, seperti zamrud, giok, atau beril. "Ada beberapa orang yang percaya, warna batu memengaruhi mood. Saya sendiri, kalau sedang butuh ketenangan, saya akan memakai amethyst. Batu ini menimbulkan kesan anggun, tanpa berlebihan," tuturnya.
Batu berlian, buat Michelle bagus, tapi bukan sesuatu yang istimewa. Berbeda dengan batu yang ada warnanya. Seperti batu safir yang berwarna biru. "Batu safir adalah batu pertama yang saya miliki, hadiah ulang tahun saya yang ke-17 dari Nenek. Saya juga punya batu merah delima (rubi) yang diikat berlian, hadiah dari adik kakek saya. Selain batu safir dan rubi itu, ada juga seperangkat perhiasan berupa kalung dan cincin dari batu amethyst (kecubung) dan perak, hadiah perkawinan dari tante saya. Desainnya berbentuk seperti titik hujan, dengan ornamen 60 batu kecil sebesar ujung kuku kelingking. Buat saya, sih, bukan harga dari batu-batu yang menjadikannya berkesan atau bernilai, tapi siapa pemberinya. Harganya menjadi tak ternilai karena merupakan hadiah dari orang-orang yang saya sayangi," tuturnya. (f)