Bagaimana dengan wanita? Apakah wanita juga terpengaruh oleh demam batu-batuan ini? Reny menjawab, sejak dahulu kala, perhiasan adalah sahabat para wanita. Memang, ada tren perhiasan yang mengalami pergeseran. “Dulu, 17 tahun lalu, ketika saya baru memulai bisnis, perhiasan dari emas kuning yang dicari. Tahun 2000-an mulai bergeser, yang kuning itu jadi putih. Semua inginnya diputihin. Lantas kuning itu dianggap norak,” ujarnya.
Reny lalu menambahkan, di era itulah mutiara mulai digemari. “Dulu, kiblat trennya adalah Italia dan Hong Kong. Rasanya bangga banget kalau bisa mengenakan perhiasan buatan Italia dan Hong Kong, atau yang modelnya mengacu pada tren di sana,” paparnya.
Memang, wanita lebih mementingkan estetika sebuah batu dalam bentuk perhiasan. Itulah kenapa, desain menjadi faktor penentu apakah seorang wanita mau mengenakan batu sebagai elemen aksesorinya. “Namun belakangan ini, perhiasan tak lagi menjadi primadona seperti dulu karena orang lebih melirik tas merek premium,” tutur Reny.
Ficky Yusrini