Saya hanya menangis sekali, yaitu ketika suami mual hebat sepulang kemoterapi. Suara suami yang berusaha memuntahkan isi perutnya ini menggema di seantero rumah. Saya jadi trauma pada saat-saat ia pertama kali menjalani kemoterapi. Pada saat ini saya akan masuk mobil, pergi ke vihara, dan menangis sejadi-jadinya selama perjalanan. Begitu sampai rumah, saya akan menyegarkan diri, mencuci rambut, seolah tidak terjadi apa-apa.
Adik saya kini sudah bisa disebut survivor. Sudah lebih dari 5 tahun kankernya tak kambuh. Cita-cita mengambil pascasarjana diurungkan. Orang tua khawatir jika berjauhan terjadi sesuatu terhadap dirinya. Ia sempat bekerja bersama saya, sebelum membangun kariernya sendiri. Kini, ia telah menjadi International Vice President Mahaka Sports Entertainment. Ia pun sudah menikah.
Terima kasih kepada Tuhan, juga telah membimbing kami mengikuti anjuran dokter untuk menyimpan sperma adik di bank sperma, sebelum terapi dimulai. Karena, kemoterapi dan radioterapi sedikit banyak dapat memengaruhi kondisi adik untuk memiliki keturunan di kemudian hari.
Kini saya bisa berkata, seluruh rangkaian hidup saya bersama kanker merupakan bagian the best part of my life. Kanker telah mengubah keluarga kami. Hubungan kami menjadi lebih erat. Rasanya rugi jika bertengkar untuk perbedaan yang tidak prinsipil. Bukan hanya saya dan suami, anak-anak pun menjadi lebih sensitif terhadap penderitaan orang lain. Anak-anak senang berbagi bersama anak-anak penderita kanker di RS Dharmais, bahkan mengantarkannya sendiri.
Berdamai dengan kanker membuat hidup saya lebih enteng. Tak ada lagi rasa kesal dan dendam terhadap kanker yang berkali-kali menyiksa keluarga kami. Kedamaian inilah yang membuat hidup saya lebih tenang. Kini pikiran saya pun bisa lebih lepas dan kreatif. Bahkan, sakit maag akut yang saya derita sejak 15 tahun lalu juga ikut sirna! Puji dan syukur kepada Tuhan!
Yuniarti Tanjung