Apa mau dikata, ternyata itu pertanda kanker adik kambuh lagi. Lagi-lagi saya menjadi pihak yang menyampaikan berita buruk ini kepada orang tua. Kembali saya menjadi tim inti mendampingi adik. Ia langsung ditangani oleh dr. Ang Peng Tiam dari RS Mt Elizabeth yang memberinya kemoterapi dosis tinggi, atau 8 kali lebih keras dibanding kemoterapi regular.
Efek kemoterapi ini membuat adik menjadi sangat lemas. Bahkan, hanya untuk membalik halaman buku saja rasanya sulit. Rambutnya mulai rontok. Meski hati saya seperti disayat, saya harus terus membesarkan hatinya. Sesulit apa pun itu, saya selalu berusaha menyanggupi apa yang menjadi keinginannya, seperti makanan atau minuman tertentu. Meski sulit, saya akan berusaha mencarinya.
Dari adik, saya yang sehat justru belajar banyak tentang ketabahan dan semangat hidup. Bahkan, di tengah rasa sakit dan keterbatasan fisiknya, ia tetap berusaha untuk aktif. Ia memilih untuk magang di perusahaan perhiasan milik saudara ipar saya sembari menjalani radioterapi yang memakan waktu beberapa bulan. Hingga akhirnya ia mampu melewati paket pengobatan ini dengan sempurna. Cukup sudah. Kami sekeluarga berharap inilah pengobatannya yang terakhir.
Di saat yang bersamaan, beban saya juga makin bertambah ketika salah satu anak saya masuk rumah sakit. Sebagai ibu, saya ingin berada dekat dengan anak saya. Tapi, adik saya juga membutuhkan saya. Untunglah, dalam keadaan ini suami saya, Budi Tanu, memberikan pengertian besar. Ia meminta saya fokus merawat adik, sementara ia akan mendampingi anak kami. Hati saya seketika tenang.
Kali ini, obat untuk mengatasi kekambuhan ini tidak disuntik melalui tangan, tapi dimasukkan lewat dada adik yang dilubangi. Agar tetap steril, lubang harus sering dibersihkan. Tugas inilah yang saya ambil. Jujur, saya sebenarnya takut sekali pada luka dan darah.
Saya pikir tak akan kuat menghadapinya. Tapi, ketakutan saya ini dikalahkan oleh semangat hidup yang saya lihat begitu melimpah mengalir dari dalam diri adik saya. Makanya, saya luar biasa bersyukur kepada Tuhan, karena obat ini ternyata memberikan reaksi positif kepada adik. Beban yang mengimpit dada saya langsung terangkat.