Foto: dok.pribadi
Seiring dengan pemulihan suami, saya mulai membenahi kehidupan kami secara perlahan-lahan. Saya mulai bergaul lagi, membuat show dan mengadakan ekshibisi untuk bisnis perhiasan kami. Penjualan mulai meningkat. Namun, harapan baru ini seolah kembali ke titik nol ketika kanker suami kambuh. Yang menyedihkan lagi, berita pahit itu saya terima menjelang ulang tahun saya. Benar-benar kado yang teramat pahit!
Namun, kegetiran ini tidak bisa saya umbar. Di hadapan suami, saya harus optimistis. “It’s okay. Ini hanya akan menjadi 5 bulan yang menyiksamu,” kata saya mencoba meringankannya. Suami kembali mengalami rasa mual, muntah, serta siksaan seriawan. Tapi, ia berusaha tabah. Pergi ke toko juga tetap dilakukannya. Hati saya kembali berbesar melihat semangat suami.
Dokter suami sampai terheran-heran. Anehnya, suami sepertinya punya pemikiran yang sama. Begitu keluar dari ruang dokter, ia berkata, “Mom, bukannya tadi kamu mau beli kosmetik? Yuk, kita beli.” Jadilah seharian itu kami belanja, jalan-jalan, dan makan di resto favorit. Tak ada pembicaraan sedikit pun soal relaps suami.
Besoknya suami mulai menjalani terapi. Bersamaan dengan itu, ada dorongan kuat yang membuat saya ingin mengunjungi vihara. Dalam doa kali ini, saya memberanikan diri untuk membuat kesepakatan dengan-Nya.
“Tuhan, saya bertekad bahwa terapi kanker kali ini akan berbeda dari sebelumnya. Tak akan ada air mata. Saya akan menjalankan bisnis seperti biasa. Saya tidak akan menarik diri dari pergaulan. Saya akan tetap berkarya. Kehidupan keluarga harus berjalan seperi biasa. Anak-anak tetap harus gembira,” ungkap saya dalam doa.