Foto: Fotosearch
“Pepatah mengatakan, ‘Lebih berat ditinggalkan daripada meninggalkan.’ Itu benar sekali. Sungguh menakutkan kehilangan orang-orang tercinta yang dekat dan berharga dalam hidup saya,” ujar Wanda. Namun, ia terus berusaha tegar. Kepada femina, Wanda menuturkan perjalanannya mendampingi ketiga orang yang ia kasihi itu berjuang melawan kanker.
SUKA BERGANTI DUKA
Tahun 2006 itu harusnya menjadi tahun kebahagiaan bagi adik bungsu saya, Cahyadi Wanda, yang waktu itu berusia 22 tahun, dan juga bagi seluruh keluarga kami. Ia diterima di program S-2 di Greenwich University, London. Sebagai kakak, tentu saya turut bangga dan berbahagia. Terutama karena untuk bisa kuliah di universitas bergengsi ini, adik saya harus melampaui beberapa tes yang cukup ketat.
Tes kesehatan adalah salah satunya. Ia harus menyerahkan hasil rontgen dada untuk menunjukkan tingkat kesehatan paru-parunya. Saat itu, perawakan adik yang terlihat jauh lebih kurus dari biasanya membuat internis sekaligus dokter keluarga kami, Prof. Dr. Herdiman T. Pohan, Sp.PD, KPTI, DTMH, menyarankan untuk melakukan pemeriksaan secara keseluruhan.
Kami menyetujui permintaan ini. Apalagi, akhir-akhir ini adik mengeluhkan keluar keringat yang lebih banyak dari biasanya. Sempat pula ia mengeluhkan sakit di bagian punggung belakang, sampai ia dibawa ke dokter tulang dan melakukan fisioterapi. Nafsu makannya pun menurun drastis. Dan beberapa kali ia terkena demam dan batuk. Sama sekali tidak terpikir ia akan menderita penyakit yang parah.
Back pain yang dideritanya itu kami pikir hanyalah cedera yang ia peroleh ketika bermain basket. Batuk dan demam hanyalah serangan virus belaka. Dan mungkin diam-diam ia merasa stres karena harus tinggal di London tanpa keluarga dalam waktu yang cukup lama sehingga nafsu makannya berkurang. Selalu ada logika pembenaran yang membuat kami tak pernah terpikir bahwa ini semua merupakan gejala kanker!
Prof. Herdiman tidak serta-merta menyebutkan kanker. Ia hanya mengatakan di dada adik ada tumor. Namun, beliau meminta agar kami segera melakukan biopsi untuk memeriksa lebih lanjut tumor tersebut. Menuruti saran beliau, saya bersama adik dan Ayah segera ke RS Mt Elizabeth, Singapura.
Keesokan harinya kami semua dikagetkan oleh hasil pemeriksaan dokter. Adik bungsu yang kami kira terlihat sehat secara umum, ternyata terkena kanker. Tak tanggung-tanggung, kankernya di stadium 3B. Walau termasuk jenis kanker yang dapat diobati, kanker ini masuk stadium lanjut dan menunjukkan tanda penyebaran.
Padahal, tidak ada riwayat kanker dalam garis keluarga kami. Ibu dan ayah kami juga tergolong sehat. Dan, adik saya pun termasuk orang yang menjalankan gaya hidup sehat. Ia rajin berolahraga, bukan penggemar gaya hidup hura-hura, bahkan bukan peminum alkohol.
Berdua bersama adik saya, kami menjadi orang pertama yang mendengar vonis dokter ini. Ingin rasanya saya menangis sejadi-jadinya. Tapi, tak bisa saya lakukan. Saya harus tegar di hadapan adik yang pastinya sangat terpukul. Kanker tidak hanya mengacaukan rencana masa depan yang telah disusunnya, tapi kematian seolah-olah mengintai hari-harinya.
Saya harus tegar dan pandai memilih kata-kata untuk menyampaikan kepada Mama, Sinta Kirana Wanda (59), yang pastinya sangat sedih mendengar sakit yang diderita anak tercintanya. Di tengah perasaan yang bercampur aduk itu saya harus mampu berpikir jernih. Saya harus segera menentukan langkah selanjutnya untuk kesembuhan adik. Makin ditunda, sel-sel kanker itu akan makin menjalar ke mana-mana. Kami berpacu dengan waktu!
Syukurlah, selama kemoterapi adik saya sangat kooperatif. Ia cukup tegar menerima kanker di tubuhnya. Bahkan, ia berusaha tetap bugar dengan berolahraga di gym. Mungkin ia ingin membuktikan bahwa kanker tidak mematahkan semangatnya. Senang sekali, ketika 5 bulan kemudian pengobatan adik sudah selesai.
Sayang, kelegaan keluarga kami tidak berlangsung lama. Tak sampai setahun sejak pengobatan, tiba-tiba adik mengeluh perutnya serasa ditarik-tarik. Meski ia tidak mau membesar-besarkan hal ini, saya tidak bisa tinggal diam. Biarlah disebut paranoid, pokoknya harus segera diperiksa serius. Saya tak mau kecolongan lagi. Meski demikian, kami sekeluarga sangat berharap ini sakit biasa atau efek samping saja dari pengobatan kanker sebelumnya.