Perempuan di Oprah Show itu rupanya memiliki kelainan microtia. Apa yang terjadi pada saya adalah kelainan. Saya menyandang microtia unilateral grade 3 sisi kanan. Microtia grade 3 adalah microtia klasik. Telinga hanya tersusun dari kulit dan daun telinga yang tidak sempurna pada bagian bawahnya. Umumnya kategori ini disertai atresia atau ketiadaan lubang telinga.
Akibat dari kelainan ini, wajah jadi tidak simetris. Beruntung kelainan ini tidak terlalu kentara pada wajah saya. Hanya, bila tersenyum, senyum saya tidak simetris, menyungging ke atas. Dari situ saya tahu alasan saya tidak suka difoto, terutama yang mengharuskan saya untuk tersenyum. Karena senyum saya memang terlihat aneh.
Saya pun mulai aktif mencari komunitas penyandang microtia. Setelah sekian lama mencari, akhirnya saya menemukan komunitas para orang tua yang memiliki anak microtia di jejaring sosial. Di komunitas itu saya berbagi pengalaman dan perasaan penderita microtia. Ada perasaan tenang mengetahui bahwa saya tidak sendiri, ada banyak anak yang menyandang kelainan yang sama. Di komunitas ini kami saling menguatkan.
Saya mengatakan kepada teman-teman di komunitas bahwa penyandang microtia bisa hidup normal, seperti saya. Saya berhasil lulus S-1 Ekonomi Pembangunan di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Lulus kuliah pada tahun 2010, saya bekerja sebagai asisten direksi di sebuah superstore elektronik di Semarang. Setelah itu, saya bekerja di Production House Dreamlight World Media, sebagai penulis naskah. Saya juga pernah mengajar sebagai guru untuk mata pelajaran menulis naskah drama di SMK Visi Media Indonesia.
Keputusan kami berpisah bukan karena dia tidak bisa menerima kelemahan saya, tapi karena ketidakcocokan di antara kami. Di masa depan, saya ingin menikahi seorang pria yang memiliki kesabaran, tidak temperamen dan bisa memprioritaskan pasangannya.
Saya tidak pernah menyesali apa yang terjadi pada hidup saya. Saya tidak menyesali menjadi salah satu penyandang microtia. Saya juga tidak menyesali harus mengalami masa kecil yang pahit. Saya tahu Tuhan mencintai saya dan memberi saya banyak kesempatan indah. Saya tidak ingin melakukan operasi microtia untuk mendapatkan telinga baru demi kepentingan estetika. Saya ingin tetap seperti ini, menjadi Monica, penyandang microtia unilateral, agar saya selalu mengingat Tuhan dan rencana-rencana indah-Nya untuk saya. Karena rencana Tuhan belum selesai….
Ika Nurul Syifa (Kontributor – Jakarta)
Monica Petra
Penulis Masterpiece of Love, He Loves Her Till The End.