True Story
Cerita Sebelah Telinga Monica Petra Kurnia

23 May 2016



Saat itu juga saya mulai suka menulis. Di sini, saya menemukan dunia yang ‘ideal’. Saya bebas mencurahkan isi hati tanpa takut ada yang tersinggung atau sakit hati. Saya juga bebas mengungkapkan kemarahan pada apa pun yang saya anggap tidak baik. Saya lebih banyak menulis topik seputar kejadian  tiap hari, tentang perasaan saya, tentang pelajaran sekolah, teman-teman, dan lainnya. Aktivitas ini bisa dibilang menjadi terapi yang membuat saya lebih berani menghadapi dunia luar.

Saya menyukai suasana hening, karena memberi saya ketenangan dan kedamaian. Saya menemukan inspirasi dalam keheningan. Satu demi satu karya-karya saya lahir. Saya berumur sebelas tahun ketika tulisan pertama saya yang berjudul “Belajar Naik Sepeda”, dimuat di tabloid Hoplaa. Tulisan pertama ini melecut saya untuk rajin menulis cerpen.
Advertisement

Kala itu saya belum mempunyai komputer. Ada banyak cerpen yang saya tulis tangan di kertas folio. Saya baru mendapatkan komputer ketika saya SMA, dan itu jadi penyemangat saya untuk menulis. Banyak tulisan yang sudah saya hasilkan, dari cerpen hingga novel. Tidak semuanya bisa diterbitkan.

Berkali-kali mendapat penolakan tidak membuat saya patah semangat untuk terus menulis. Bahkan, beberapa tulisan yang telah ditolak, saya simpan untuk sewaktu-waktu saya tawarkan lagi kepada penerbit. Tahun 2004, saya berhasil menerbitkan novel pertama saya yang berjudul Coklat Valentine.
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?