Karena rasanya mustahil saya bisa menangkap seekor ayam, maka saya diminta Paman untuk hanya memegang unggas itu. Paman saya memegang seekor ayam betina hitam besar di pangkuannya, dan saya disuruh mendekat untuk mengelus-elus makhluk itu…. Bisa terbayang bagaimana rasanya itu.
Saya masih ingat dengan jelas perasaan takut yang saya rasakan saat itu. Dengan gemetar, jari-jari saya perlahan menyentuh bagian atas badan si ayam. Saya merasakan betapa licinnya bulu-bulu hitam legam itu, panas badan si ayam menyesap ke pori-pori luar jemari saya, mata si ayam yang seperti tidak berkedip perlahan menatap mata saya. Saya bergidik dan meringis….
“PETOK!” pekik si ayam. Saya kabur!
Terapi tidak berhasil sama sekali. Sejak saat itu saya belum pernah memegang seekor ayam lagi. Kapok! Keadaan saya ini sangat mengganggu, terutama ketika berbelanja di pasar tradisional. Rasanya ngeri saat melewati gang yang dipenuhi penjual ayam, lengkap dengan kandangkandang bambu kecil tempat ayam-ayam mengantre untuk dipotong. Hiii….
PETOK! PETOK! PETOK!
Membuat saya lari sekencang-kencangnya. Ini lebay, tapi saya sekarang mengerti betapa tegangnya menjadi seorang penjahat yang sedang diburu oleh polisi.