Radit tahu persis tanaman apa saja yang ditanam Btari di kebun mininya itu. Tempat kedua setelah ruang kerja Btari di lantai dua yang mampu membuat tubuh mungil itu betah berlama-lama menghabiskan waktu. Beberapa kali Radit sempat masuk ke dalam kebun yang dibatasi pagar bambu dan perdu-perdu kecil itu saat Btari tak berada di rumah. Sekadar melihat-lihat dan ingin tahu.
“Btari Arandayu…” Pelan… sangat pelan, Radit mengucapkan nama itu. Menekan tangannya di dada kuat-kuat. “Andai saja kamu tahu aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, apa mungkin kamu mampu membuatku terperosok dalam dilema yang menyiksa ini, bidadariku…?”
Di keheningan senja yang dingin dan berangin samar-samar terdengar dering telepon memanggil. Pandangan Radit yang bagai gas helium menatap Btari dari balik jendela kembali menjejak. Dengan malas Radit mengeluarkan benda mungil itu dari saku celananya. Tanpa melihat nomor telepon yang tertera di layar ponselnya Radit menekan tombol reject. Dering telepon itu langsung lenyap. Ia sedang tidak ingin diganggu, sore ini ia hanya ingin menikmati aktivitas Btari di antara kuncup dan mekaran bunga di halaman belakang rumah mereka, secara diam-diam.
Tak sampai satu menit, dering telepon kembali memanggil. Radit menggeretak geram. Menatap nomor tak dikenal yang tertera di layar ponselnya dengan raut wajah sedikit kesal. Tapi… sebuah pikiran tiba-tiba melintas cepat di benaknya. Jangan… jangan…! Buru-buru Radit menekan sebuah tombol. Membawa telepon genggamnya merapat ke telinga.
“Kita harus bertemu!” Suara misterius yang sudah mulai akrab di telinganya menyapa dengan cepat, sebelum Radit sempat mengucapkan sepatah kata.
Radit kembali tercekat.
“Aku tunggu di taman kota.”
“Huh…,” Radit mengembuskan napas dengan kuat. Melayangkan pandangannya kembali pada tubuh mungil Btari yang kini sibuk menabur beberapa skop kompos ke dalam polybag tanaman tomat cherry yang mulai mengeluarkan bunga.
“Sekarang!!!” Suara di ujung telepon itu benar-benar memaksa.
“Ya, mungkin sudah waktunya kita bertemu.” (Bersambung)
Triana Rahayu
Baca juga:
Cerber: Sebatas Aurora [1]
Cerber: Sebatas Aurora [3]
Topic
#FiksiFemina