Minie, sekretaris Radit, juga terlihat gembira. Melihat bosnya kembali bergairah. Wajah Radit terlihat kembali bersinar cerah. Minie tak perlu lagi direpotkan dengan schedule yang harus dijadwal ulang. Menjadi sasaran kekecewaan rekan bisnis bosnya yang merasa terabaikan, akibat konfirmasi pembatalan jadwal meeting, atau telepon yang tak kunjung tersambung ke ruang kerja Radit.
Tapi… ketenangan itu tak berlangsung lama. Semua ketegangan itu kembali muncul bagaikan teror. Waktu menunjukkan pukul tiga siang. Radit mengangkat telepon dari seseorang yang disambungkan dari meja Minie. Suara di seberang sana terdengar sangat terburu-buru.
“Bara kecelakaan! Sekarang diopname di Rumah Sakit Telaga Hijau. VIP Catleya. Mereka pasti akan bertemu di sana. Jangan tanya siapa aku! Aku hanya orang yang bersimpati padamu dan sangat menginginkan Bara.”
Tap. Telepon di seberang sana ditutup dengan cepat. Radit kembali tercekat. Diam tanpa kata. Digenggamnya gagang telepon itu dengan erat. Pikirannya kembali mengawang. Persis seperti tiga hari yang lalu. Ada debaran tak teratur yang kini memburu di dadanya. Hatinya kembali sekarat.
Topic
#FiksiFemina