Fiction
Cerber: Sebatas Aurora [2]

3 Jun 2017



 
Bagian 2
Kisah sebelumnya
Hubungan cinta Btari dan Bara harus kandas tanpa ada kata perpisahan ketika Btari harus menikahi kakak angkatnya, Radit. Bara yang waktu itu sedang tugas di Alaska dan tidak bisa dihubungi, harus menerima kenyataan pahit kehilangan kekasihnya. Di satu sisi, Radit mendapatkan informasi secara misterius ketika Bara mengajak Btari bertemu di sebuah kafe.
 
Di kamar, Radit tak segera mengganti pakaian. Ditariknya simpul dasi agar lebih longgar, menggulung lengan kemeja hingga ke siku, lalu merebahkan tubuh di atas ranjang. Sesaat tubuh Radit terayun-ayun lembut. Ia ingin mengistirahatkan sejenak kepenatan yang menggelayuti tubuhnya. Entah kenapa, sepanjang hari ini tubuhnya terasa sangat letih, seperti dibebani karung ribuan kilo. Padahal, tak banyak aktivitas yang dilakukannya. Selepas jam makan siang, ia hanya melamun di meja kerjanya sampai sore. Semua jadwalnya hari ini di-cancel. Tak ada meeting atau aktivitas ini-itu. Mungkinkah pemandangan yang dilihatnya di balik jendela Café Gladiola, siang tadi, telah menyedot hampir seluruh energinya?

Huh…,” Radit mengembuskan napas dengan berat. Seiring dengan sayatan di hatinya. Ah… kenapa kini perasaannya jadi sangat melankolis. Mungkin itu hanya pertemuan dua sahabat  yang telah lama berpisah. Radit mencoba mencari-cari alasan. Menghibur kegundahannya. Pemikiran itu terdengar tak yakin. Tapi, sudah ratusan kali dipaksakan. Ia tak ingin terlihat sebagai lelaki pencemburu. Itu bukan gayanya. Walau hingga detik ini ada jarak di antara mereka, ia sangat yakin bidadari kecilnya itu tak akan tega mengkhianatinya. Lihat saja! Semua  masih seperti kemarin, mesra, walaupun berjarak. Baginya, itu sudah lebih dari cukup menjelaskan bahwa semua baik-baik saja.
Advertisement

Perlahan namun pasti terdengar langkah kaki mendekati pintu. Makin dekat,  makin jelas. Dan… pintu yang tak tertutup rapat itu perlahan terbuka lebar. Dari balik pintu terlihat wajah ayu Btari menyembul. Radit tersentak. Memandang Btari tak berkedip. Meraba respons. Memilah reaksi.
“Mas, mau mandi dulu atau langsung mencicipi brownies?” tanya  Btari dari bibir pintu. Tubuh Btari mematung di situ.

“Ayolah Bidadariku! Biarkan aku sesaat mendekap tubuhmu. Kamu tahu aku sangat merindukanmu. Masuk dan berbaringlah di sampingku. Rasa itu pasti lebih nikmat dari brownies cita rasa apa pun. Basuh hatiku yang sedang gelisah.”
“Mas Radit!” panggil Btari kembali.
“Eh…,” Radit tergagap. Tersadar dari jerat pikirannya. “Hmm… sepertinya Mas mau mandi dulu. Gerah.” Radit menelan ludah. “Setelah selesai mandi, Mas akan keluar dan mencicipi brownies buatanmu,” jawab Radit cepat. Tak ingin Btari curiga dengan pikiran yang sedang membelitnya.
“Baiklah!” Hanya itu kata yang meluncur dari bibir Btari. Tak ada rayuan, canda, apalagi paksaan. Btari membalikkan tubuh. Meninggalkan Radit terduduk sendirian di tepi ranjang.
 


Topic

#FiksiFemina

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?