Aku tak mampu menolak pesonanya. Aku sudah berjuang, tapi aku tak sanggup. Dia begitu memikat, membuatku tak berdaya.
Dia semakin terbuka tentang perasaannya.
“Apa kau tahu kalau aku lebih tua setahun darimu?” tanyanya lewat telepon.
“Tahu.”
“Mengapa kau biarkan aku terus-menerus memanggilmu Kakak?”
“Kau yang memilih memanggilku begitu. Aku cuma membebaskanmu mengerjakan pilihanmu.”
“Baiklah. Sekarang, kau mau kupanggil apa?”
“Dipanggil Kakak sebenarnya tidak jelek. Aku hanya punya satu adik, jadi masih bisa ditambah lagi.”
“Tapi aku lebih membutuhkan seorang kekasih dari pada seorang kakak.”
Aku tak menjawab apa-apa lagi, tapi wajahku terasa hangat.
Di saat yang sama, aku juga kembali terpesona oleh Tigor.
Dulu aku memang tidak mengenalnya. Tapi sekarang aku tahu banyak tentang dirinya. Matanya yang bersinar lembut, ternyata cerminan dari kelembutan hatinya. Sikapnya tenang dan menentramkan. Di dekatnya aku merasa dimanjakan. Sebanyak apapun ceritaku, dia selalu mendengarkan dengan serius. Jika aku sedang uring-uringan, dia selalu berhasil menenangkanku.
Mario bagai pemburu yang mengejarku. Aku senang dikejar-kejar begitu.
Tigor bagai pohon rindang yang menudungiku. Aku tentram berteduh di bawahnya. Mario membangkitkan kenakalan masa kecilku. Aku bergairah karena itu.
Tigor menuntunku menuju kedewasaan yang lebih matang. Aku tenang karena itu.
Ahhh… (Bersambung)