Kooswardini Wulandari, Communications Manager Opera Indonesia
Proses Kerja Lebih Sederhana
Sejak tahun 2015 saya menjalankan remote working karena perusahaan teknologi tempat saya bekerja saat ini belum memiliki kantor regional di Indonesia. Kantor regional terdekat berada di Singapura, atasan saya langsung pun berada di Taiwan.
Anggota tim saya di Jakarta hanya 6 orang yang semuanya bekerja secara remote. Meski tak bertemu tiap hari, saya dan tim selalu berkomunikasi lewat WhatsApp group. Mulai dari update pekerjaan, diskusi, bertukar ide, hingga mengambil keputusan.
Ini sangat berbeda dengan kondisi kantor saya dulu. Cabangnya tersebar dari Sabang sampai Merauke, lapisan kerja atau ‘birokrasi’ kerjanya pun sangat banyak. Makin lama, saya makin merasa kehilangan banyak waktu dan tidak bisa melakukan hal-hal lain yang saya sukai, seperti traveling dan menulis.
Akhirnya saya mencoba menjalankan remote working. Apalagi kantor saya sekarang ini adalah perusahaan multinasional yang karyawannya berada di seluruh dunia. Saat ini, rekan-rekan kerja saya tersebar di India, Norwegia, Amerika Serikat, Taiwan, Singapura, Afrika Selatan, Polandia, dan Jakarta. Saya membutuhkan waktu 6 bulan untuk menyesuaikan diri. Bukan karena sulit, tetapi karena budaya kerjanya sangat berbeda.
Pertama saya harus beradaptasi dengan ritme kerja diri sendiri karena selama ini saya terbiasa dengan rutinitas. Kini tidak ada rekan kerja atau bos yang mengawasi saya secara fisik. Saya harus self driven, inisiatif sendiri.
Kegiatan pertama saya saat bangun pagi biasanya adalah membalas berbagai e-mail. Setelah sarapan dan olahraga, saya akan mulai bekerja di meja kerja. Koneksi internet pun hukumnya wajib karena komunikasi pekerjaan saya sangat bergantung pada hal itu.
Kedua, harus beradaptasi dengan budaya kerja tiap rekan di berbagai negara. Yang paling terasa adalah soal waktu karena waktu tiap negara berbeda-beda. Kantor pusat perusahaan saya di Oslo, Norwegia, mulai aktif bekerja pukul 9 pagi waktu Oslo, itu berarti pukul 3 sore waktu Indonesia. Berarti meeting pukul 5 sore di Oslo, di Jakarta sudah pukul 11 malam.
Ketiga, saya harus mendorong diri untuk lebih aktif belajar. Karena perbedaan waktu, saya tidak bisa mengandalkan orang lain jika saya butuh jawaban. Saat saya masih anak baru, saya mengirimkan e-mail ke atasan, bertanya sesuatu. Ia hanya membalas dengan memberikan link untuk google drive yang berisi segala informasi tentang perusahaan yang perlu saya ketahui.
Namun, remote working juga membuat saya merasa kesepian. Sebab, saya dulu terbiasa dengan office gathering, outing, makan siang bersama, dan lain-lain. Untuk itu, saya mewajibkan diri keluar rumah tiap hari untuk apa saja.
Meski semua terbantu dengan keberadaan teknologi, menurut saya tatap muka dengan orang tetaplah penting. Dari gestur orang, ekspresi nyata, saya bisa merasa lebih memahami orang itu dan juga tidak merasa kesepian. Keluar rumah bertemu orang lain juga sangat membuka wawasan. Kehidupan saya saat ini terasa lebih seimbang. Pekerjaan selesai, kebutuhan diri pribadi pun bisa dipenuhi dengan lebih berkualitas.
Topic
#TipKarier