Ariani Darmawan dan Sigi Wimala kembali dari rehat lewat karya Desember Jani. Foto: Dok. Palari Films

Di masa kini, mengambil jeda sejenak di tengah kesuksesan karier adalah sebuah pilihan dengan beragam alasan, kecuali karena berhenti bermimpi.

Dua perempuan di dunia film, Sigi Wimala dan Ariani Darmawan, adalah dua di antaranya. Mereka memilih berkonsentrasi untk keluarga, hingga akhirnya siap hadir kembali lewat karya yang sama.

Sigi dikenal publik sejak menjuarai GADIS Sampul 1999. Debutnya dalam film Tentang Dia (2005) langsung membawanya masuk nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik Piala Citra di FFI 2005. 

Ketika kariernya sedang menanjak, antara lain lewat Rumah Dara (2010) dan Hi5teria (2012), Sigi memilih fokus menjadi ibu. 

Ariani menempuh jalan serupa di balik layar. Dikenal menyutradarai film pendek seperti Sugiharti Halim (2008), ia cukup lama rehat, 15 tahun, yang sebagian waktunya untuk membesarkan anak. 

Desember Jani adalah comeback bagi Ariani, dan jadi film panjang pertamanya.

Film tentang sebuah peristiwa dalam keluarga generasi sandwich yang seluruhnya perempuan ini lahir dari proses panjang yang penuh kesabaran. 

Selama tiga tahun, Ariani mengembangkan ceritanya bersama novelis dan penyair Cyntha Hariadi, berangkat dari kumpulan cerpen Cyntha, Manifesto Flora. Film ini juga debut Cyntha sebagai penulis skenario.

Desember Jani (Jani Be Good), kisah keluarga empat perempuan lintas generasi dengan segala konflik masing-masing. Foto: Palari Films

“Cyntha menulis dengan kepekaan yang luar biasa terhadap hal-hal kecil di dalam rumah. Kami tidak terburu-buru. Tiga tahun itu kami pakai untuk benar-benar mengenal Jani, Winnie, Julia, dan Oma, sampai mereka terasa seperti keluarga yang kami kenal sendiri,” ujar Ariani, tentang karakter dalam Desember Jani.

Proses itu tidak berhenti di atas kertas. Ariani mengajak para pemain berdiskusi tentang keluarga mereka masing-masing, lalu menyelipkan serpihan cerita itu ke dalam skenario. Bahkan karakter Jani ikut terbentuk dari keseharian Chempa Puteri, pemeran Jani, yang natural.

Bagi Sigi, yang bermain sebagai Winnie, ibu tunggal dua anak sekaligus breadwinner keluarga, cara kerja ini terasa berbeda dari pengalaman sebelumnya. 

“Kami membaca naskah bersama di rumah, berbagi cerita tentang ibu, anak, dan kebiasaan kecil di keluarga kami. Ariani memberi ruang untuk itu. Rasanya bukan seperti datang ke lokasi syuting, tapi seperti pulang ke rumah yang sama setiap hari,” kata Sigi.

Film ini juga dibintangi Tutie Kirana sebagai Oma atau ibu dari Winnie, dan Hyori Mika sebagai Julia, yang karakternya jadi awal konflik dalam film ini. 

Kedekatan itu tumbuh di antara para pemain—empat perempuan dari tiga generasi, yang di luar kamera saling menjaga seperti keluarga sungguhan.

“Kami saling menguatkan. Chempa dan Hyori masih muda, Tante Tutie punya pengalaman panjang, dan saya ada di tengah-tengah. Ketika ada adegan yang berat, kami saling memeluk setelahnya,” ungkap Sigi.

Sigi juga mengatakan, dukungan itu mereka bawa sampai ke Tokyo International Film Festival ke-39, salah satu film internasional bergengsi yang jadi lokasi World Premiere Desember Jani (judul internasional: Jani Be Good), sekaligus bersaing di kompetisi Asian Future.

Para perempuan di balik film Desember Jani di Tokyo International Film Festival 2026; Sigi Wimala dan ‘dua anaknya’, Hyori Mika dan Chempa Puteri. Foto: Dok. Palari Films

Cerita yang lahir dari meja makan sederhana di Bandung ternyata juga menyentuh penonton internasional.

“Berdiri di Tokyo bersama perempuan-perempuan ini, saya merasa semua waktu yang saya habiskan di rumah tidak sia-sia. Justru dari sanalah saya belajar memahami Winnie,” ujar Sigi.

Di balik semua itu, ada produser Meiske Taurisia yang menjaga proses tetap berjalan dengan tenang. Hampir seluruh posisi kunci di film ini dipegang perempuan, dari sutradara, penulis, produser, hingga para pemerannya.

“Meiske percaya pada cerita ini sejak awal, bahkan ketika saya sendiri masih ragu untuk kembali. Film ini bisa sampai ke Tokyo karena setiap orang di dalamnya saling percaya, dari penulis, produser, sampai para pemain,” kata Ariani.

Kepercayaan dan dukungan sisterhood, seperti kisah para perempuan di balik Desember Jani, bisa jadi sesuatu hal bermakna untuk menyelesaikan rehat.

Sigi Wimala dan Ariani Darmawan membuktikan bahwa waktu yang dihabiskan untuk keluarga adalah bekal berharga bagi kita untuk kembali mengejar mimpi, serta melangkah lebih jauh lagi.

Desember Jani tayang di bioskop Tanah Air mulai 10 Desember 2026. (f)

Baca juga:

Koleksi Tanö Niha, Cerita Mel Ahyar tentang Nias

Adjani Zahra, Energi yang Tumbuh dari Paduan Olahraga dan Seni

Ida Yulidina Menemukan Inti Diri dalam Pengabdian untuk Keluarga