Foto: Dok. Tim Muara Bagdja
Tak hanya Ivan, perancang Qonita Ghalib pun menyematkan aksen bulu burung pada gaun yang dipamerkannya saat parade pembukaan, membuat para pecinta mode mengerutkan dahi dan khalayak awam sebatas terkesima tanpa menyadari kesalahan dasar secara prinsip yang sesungguhnya dapat menjadi momen edukasi bahwa mode ramah lingkungan tidaklah terbatas pada desain minimalis dan membosankan, material ramah lingkungan dan daur ulang seharusnya dapat dikemas dengan kreatif dan menjadi bintang dari rancangan para partisipan di pekan mode Harmoni Bumi. Bahkan alih-alih menggunakan kain perca, tampak satu perancang yang menggunting bagian-bagian motif batik untuk diaplikasikan sebagai kolase aksen pada gaun rancangannya, yang berujung menyisakan lebih banyak lagi kain sisa produksi yang seharusnya diminimalisir.
Ini bukanlah perihal mengatur bagaimana idealnya sebuah rumah mode berkarya, namun perihal salah kaprah dan penggunaan konsep peduli lingkungan yang dijadikan gimmick semata, sehingga Harmoni Bumi menjadi tidak berbeda dengan pekan mode lainnya seperti Indonesian Fashion Week ataupun Jakarta Fashion Week, bedanya hanya masalah skala dan jumlah partisipan saja.
Sebuah fakta yang patut disayangkan dan diharapkan dapat diperbaiki baik oleh para founders ataupun kesadaran partisipan yang terlibat untuk kembali menelaah tujuan dan pesan serta tanggung jawab edukasi dan pertanggung jawaban koleksi yang mereka lansir kepada masyarakat Indonesia yang menjadi target market semua pihak terkait. (f)
Baca Juga
Melly Goeslaw Dobrak Aturan Mode
Duet Baru Mode Dunia: Raf Simons dan Miuccia Prada
Jejak Hian Tjen di Mode Italia
Topic
#ReportaseModeFemina, #HarmoniBumi, #FashionRhapsody