Selain mengikuti Première Classe, peserta atau Incubees Pintu Incubator 2026 mengikuti Focus Week Paris, yang mencakup workshop di sekolah fashion serta kunjungan ke sejumlah institusi kreatif dan budaya di Paris.
Program ini memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mengenal lebih dekat pendidikan, industri, craftsmanship, dan budaya fashion di Prancis.
Tahun ini, Paris juga kembali menyambut karya dari peserta Pintu Residency, program Pintu Incubator yang mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman melalui kolaborasi kreatif.
Setelah pada 2025 menghadirkan desainer Prancis untuk bekerja bersama artisan Indonesia, tahun ini program dikembangkan melalui format creative pairing, yang mempertemukan desainer Indonesia dan Prancis untuk menciptakan koleksi bersama.
Selama April hingga Juli 2026, Beatrice Angelica dan Gabriel Marcella dari Indonesia, serta Mickaël Nana dan Lisa Rayar dari Prancis, menjalani residency di bawah kurasi Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer.
Thresia Mareta adalah Co-Initiator Pintu Incubator dan Founder LAKON Indonesia, Carol Meyer dari Institut Français Indonésie, serta Pascaline Wilhelm adalah Fashion Director Première Vision, yang masuk daftar Business of Fashion 500, indikator profesional paling berpengaruh di industri fashion global.
Dalam Pintu Residency keempat desainer Indonesia dan Prancis itu tidak hanya mempelajari teknik tekstil, tetapi juga tinggal lebih dekat dengan lingkungan tempat keterampilan tersebut tumbuh, bekerja bersama komunitas artisan, serta memahami konteks budaya yang kemudian menjadi bagian dari proses pengembangan koleksi.
“Bagi kami, di situlah nilai penting sebuah residency, ketika pertukaran tersebut membuka cara baru bagi seorang desainer untuk melihat dan menciptakan,” ujar Thresia Mareta, mengutip rilis pers.
Di minggu pertama Oktober silam, Garuda dan Au Large diperkenalkan kepada buyer dan pelaku industri fashion internasional di Première Classe, Paris.
Garuda, koleksi ready-to-wear 10 looks yang terdiri atas womenswear dan menswear, terinspirasi arsip foto Indonesia akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Beatrice Angelica dan Mickaël Nana memadukan Tenun dan Songket Lombok dengan struktur tailoring Barat.
Bersama artisan lokal perempuan, keduanya mengembangkan tekstil khusus dengan teknik tradisional yang diterjemahkan ke dalam desain kontemporer.
Di Mojokerto, Gabriel Marcella dan Lisa Rayar menciptakan Au Large, koleksi 11 looks yang mempertemukan budaya maritim Indonesia dan Prancis.
Referensi busana pelaut Prancis dipadukan kehidupan pesisir Pantai Utara Jawa dan tradisi Sedekah Laut melalui siluet, struktur busana, serta batik. Keduanya mengembangkan motif khusus yang menggabungkan pola kotak sarung Indonesia dengan garis khas busana maritim.
Saat ini, Pintu memiliki tiga program utama, yaitu Pintu Incubator, Pintu Accelerator, dan Pintu Residency, yang disesuaikan kebutuhan dan tahap perkembangan pelaku fashion.
Pada 2026, Yayasan Pintu Incubator Indonesia dibentuk sebagai landasan untuk pengembangan program ke depan, dan membantu lebih banyak lagi pelaku fashion Tanah Air. (f)
Baca juga:
JF3 Fashion Festival 2026 Jadikan Craftsmanship Nusantara Kekuatan Fashion Masa Depan
Di JF3 Fashion Festival 2026, Billy Tjong Comeback Tampilkan Koleksi Fuchsia
Pintu Incubator dan Lakon Indonesia Hadirkan Kolaborasi Fashion Lintas Budaya di Premiere Classe Paris