Foto: Dok. Ideafest2020
IDEAFEST 2020 mengusung tema Restart, untuk mengajak masyarakat menata hari baru menuju tahun yang baru. Setelah delapan bulan terakhir ini kita dihadapkan dengan ketidakpastian, rasa tidak nyaman, putus asa, hingga memilih untuk menggunakan tahun ini sebagai waktu untuk beristirahat. Jeda sejenak untuk memikirkan dan memeriksa kembali potensi apa yang sebenarnya kita miliki.
Ben Soebiakto, CEO Samara Media & Entertainment menyampaikan bahwa pandemi membawa masyarakat ke dalam sebuah perubahan kehidupan yang tak terduga dan tanpa persiapan, namun bukan berarti masyarakat harus menyerah. “Tahun ini adalah waktu untuk kita menemukan kembali keterampilan, mengubah inspirasi, ide, tujuan dan juga impian,” ungkap Ben.
Ia berharap IDEAFEST kali ini dapat memberikan ruang informasi khususnya bagi komunitas kreatif sekaligus mengajak lebih banyak komunitas dan figur-figur inspiratif untuk memberikan dampak yang lebih besar dan efektif. “Kita harus terus berusaha, bergerak maju, dan memulai kembali,” tantangnya.
Melalui panggung virtual IDEAFEST tahun ini, sekitar 150 pembicara dalam dan luar negeri berbagi inspirasi dan informasi yang dapat dijadikan sebagai referensi terkini bagi pelaku industri kreatif. Konten dan para pembicara ini sebelumnya telah melalui proses kurasi oleh 15 kurator (Braintrust), terdiri dari berbagai latar belakang dan keahlian di industri kreatif.
Dalam sambutannya, Presiden Joko Widodo menyebutkan industri kreatif sebagai industri masa depan. Menurutnya, industri kreatif merupakan sektor yang tidak terbatas karena kemunculannya didasari oleh imajinasi dan kreativitas yang tidak memiliki batas.
"Industri kreatif tempat anak-anak muda tidak hanya bekerja, tapi juga untuk berkreasi melahirkan karya-karya inovatis yang besar. Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan industri kreatif," terang Jokowi.
Untuk mengisi panggung virtual conference yang paling ditunggu oleh pengunjung, tentu saja penampilan Malcolm Gladwell. Penulis buku best seller dan host Revisionist History Podcast ini menjadi pembicara penutup yang mengangkat topik Talking to Strangers: What We Should Know about the People We Don't Know.
Menurut Malcolm, faktanya manusia tidak pernah pandai memahami orang asing, bahwa kesan pertama kita tentang orang lain sering kali salah. Dengan memahami fakta itu, kata Malcolm, orang membutuhkan rasa ingin tahu dan empati untuk melewati faktor-faktor yang terbentuk dalam kesan pertama. “Jangan sampai kita puas hanya dengan Kesan pertama,” ungkap penulis asal Kanada tersebut.
Komunikasi dengan orang asing kerap menjadi salah paham, karena kita terikat pada gagasan bahwa emosi seseorang dipresentasikan secara eksternal, dengan ekspresi wajah dan bahasa tubuh, "Padahal, sumber yang tampak secara kasat mata tak dapat diandalkan dalam memahami seseorang secara utuh," ujarnya.
Selain Malcolm, sederet pelaku kreatif dari dalam negeri seperti Jovial Da Lopez & Andovi Da Lopez (SkinnyIndonesian24), Raisa (musisi), dan Marissa Anita (Actress & Lead Editor of GREATMIND) juga tampak menuangkan pikiran mereka di hari terakhir IDEAFEST 2020 Conference, 15 November 2020.
Selain sesi talks dan conference, IDEAFEST 2020 juga mempersembahkan program musik yang dapat dinikmati secara gratis, serta tenan F&B. Secara keseluruhan, IDEAFEST 2020 berhasil menunjukkan adaptasi pada situasi saat ini, dimana gelaran yang mengumpulkan ribuan orang di tahun-tahun sebelumnya mampu hadir dalam bentuk virtual yang kreatif dan inovatif. Setidaknya, kali ini kita bisa menyerap ide-ide baru dari ratusan pembicara kreatif di spot favorit di rumah sendiri. Time to restart! (f)
Baca Juga:
Layanan Streaming dan Cloud Diminati, Bakal Jadi Gaya Hidup Setelah Pandemi
Karya Kreatif Indonesia 2020, Berkarya di Tengah Pandemi
Diam-Diam Ternyata Isyana Sarasvati Hobi Masak
Faunda Liswijayanti
Topic
#conference, #duniakreatif