Foto: Dok. Pribadi
Jangan Lihat Bungkusnya
Foto Ayu yang terpampang di femina ini adalah foto hasil bidikan fotografer Darwis Triadi yang dipamerkan di atrium Mal Grand Indonesia, Juli lalu. Ia hadir mewakili komunitas Orang Dengan Skleroderma (ODS), komunitas berbagi dan saling menguatkan yang didirikannya pada tahun 2016. Acara talk show bertajuk Inilah Wajah Autoimun ini bertujuan untuk menginformasikan penyakit autoimun kepada masyarakat.
Dalam foto itu Ayu tampak biasa saja, tak berbeda dengan wanita lain. Guru bahasa Jawa SMAN 3 Pemalang, Jawa Tengah, ini sehari-harinya termasuk wanita periang yang tidak bisa diam. Dengan riang ia pun bercerita, beberapa bulan lalu ia berhasil mewujudkan impiannya untuk mencoba naik gunung. “Bukan naik gunung beneran seperti pendaki lain, sih. Saya berhasil mencapai puncak Gunung Ijen di Jawa Timur!” ujarnya, tersenyum.
Di balik sifatnya yang riang, Ayu sesungguhnya memiliki kondisi yang membuat tubuhnya tidak leluasa beraktivitas seperti orang pada umumnya. Ia adalah orang dengan skleroderma (ODS), salah satu penyakit autoimun yang sudah 10 tahun menjadi bagian dari hidupnya.
Naik Gunung Ijen yang bagi orang muda seusianya yang hanya memakan waktu 3 jam itu, bagi Ayu adalah sebuah kegiatan nekat. Ia bisa kehilangan nyawa di gunung yang kawahnya terkenal sebagai penghasil belerang tersebut. Ijen ia pilih karena medannya relatif tidak terlalu panjang dan tidak sulit.
”Saya nekat tidak izin ke dokter. Kepada orang tua pun hanya bilang ingin liburan ke Bondowoso. Karena saya tahu, mereka tidak mungkin mengizinkan saya melakukan aktivitas fisik yang berat, di udara yang dingin pula, dua hal yang sangat membahayakan kesehatan saya sebagai ODS,” ujarnya.
Sejak awal ia sudah mengatakan kepada teman seperjalanannya bahwa ia tidak mengejar waktu untuk melihat sunrise atau blue fire yang biasa dilakukan oleh wisatawan yang ke sana. Keinginannya sederhana saja, ingin sekali dalam hidupnya bisa naik gunung. Ia juga mohon pengertian, dengan fungsi paru-parunya yang sekitar 53 persen, ia tidak bisa jalan cepat. Ia harus berhenti istirahat tiap beberapa meter. Tabung oksigen pun disiapkan untuk jaga-jaga.
”Ajaib, selama empat jam perjalanan mendaki, eksplorasi puncak selama satu jam, dan empat jam perjalanan turun, saya tidak mengalami sesak napas. Padahal, biasanya kalau berjalan-jalan di mal saja saya bisa kelelahan,” ujarnya.
Namun, dua minggu setelah itu, efeknya baru terasa. Ayu merasa sesak napas hingga harus dirawat di rumah sakit. ”Saya dimarahi dokter karena nekat naik gunung. Rupanya, paru-paru saya mengalami infeksi. Setelah seminggu dirawat di RS Karyadi, saya boleh pulang. Tapi, dokter memperingatkan, selama satu tahun saya tidak boleh traveling jauh dan melakukan kegiatan berat. Saya harus bisa mengukur diri,” ujar wanita yang hobi fotografi.
Topic
#kisahsejati