Infeksi Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu krisis kesehatan yang paling mendesak di Indonesia.
Data terbaru dari World Health Organization (WHO) menunjukkan betapa seriusnya ancaman ini–pada tahun 2024, Indonesia mencatatkan lebih dari 257.000 kasus dan 1.400 kematian akibat DBD. Selain dampak kesehatan yang tragis, dengue juga menimbulkan beban ekonomi signifikan, mencapai hingga 381,15 juta dolar AS pada tahun 2015.
Menanggapi tantangan kesehatan dan ekonomi ini, sebuah kolaborasi besar antara akademisi, pemerintah, dan industri farmasi kini diluncurkan untuk memperkuat pertahanan nasional.
Pada 1 Desember 2025, langkah maju yang signifikan diumumkan dengan dimulainya Uji Klinis Tahap Lanjut (Fase 3) Vaksin Dengue V181-005. Upaya ini merupakan hasil kerja sama antara MSD, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dan tim Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), didukung penuh oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Turut hadir dalam pengumuman uji klinis yang berlangsung di Jakarta yaitu Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin.
Keunggulan utama dari vaksin yang sedang diuji ini adalah potensinya untuk memberikan perlindungan yang lebih relevan dan efisien.
Pertama, cakupan usia luas, menargetkan usia mulai dari 2 tahun. Kedua, dosis tunggal, hanya memerlukan 1 kali dosis untuk perlindungan jangka panjang.
Indonesia terpilih menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang berpartisipasi dalam penelitian multinasional V181-005. Kegiatan ini dipimpin oleh RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo sebagai leading site dan melibatkan empat Puskesmas di wilayah DKI Jakarta.
Uji klinis ini telah memasuki Fase 3, tahap krusial bagi para peneliti menilai keamanan, respons imun (imunogenisitas), dan efikasi vaksin dalam jangka panjang.
“Indonesia memberikan kontribusi kasus dengue tertinggi di wilayah Asia Tenggara. Anak-anak menjadi kalangan yang paling berisiko mengalami keparahan hingga kematian akibat infeksi dengue,” ungkap Dr. dr. Mulya Rahma Karyanti, Sp.A(K), M.Sc., Ph.D, Peneliti Utama Uji Klinis V181-005.
Dr. Mulya Rahma Karyanti menambahkan bahwa pada Fase 3 di Indonesia, sebanyak 1.000 responden akan berpartisipasi melalui proses seleksi ketat. Seluruh proses dilakukan sesuai prinsip ilmiah tertinggi dan Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB), dengan pemantauan medis berkelanjutan untuk menjamin keamanan.
Komitmen terhadap inovasi ini juga datang langsung dari pemerintah. BPOM telah menerbitkan persetujuan uji klinis pada Agustus 2025 dan berjanji akan mengawal pelaksanaannya. Dra. Tri Asti Isnariani, APT.M.Pharm, Direktur Registrasi Obat BPOM, mewakili Kepala BPOM, menyampaikan bahwa uji klinis ini berpotensi menghadirkan inovasi untuk meningkatkan kepatutan dan mempercepat perlindungan bagi anak.
Sementara itu, pihak industri farmasi menyuarakan urgensi untuk mengatasi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini. “MSD berkomitmen untuk membantu mengatasi infeksi dengue, penyakit yang ditularkan melalui nyamuk aedes aegypti dan tersebar luas, melalui pengembangan vaksin dengue,” kata George Stylianou, Managing Director MSD Indonesia.
Uji klinis ini menjadi simbol semangat kolaborasi antara regulator, akademisi, dan industri untuk mempercepat akses masyarakat Indonesia terhadap inovasi kesehatan yang bisa mencegah infeksi dengue di masa depan, dan membebaskan Indonesia dari DBD. (f)
Baca juga:
Ledakan Kasus Campak 2025, Fakta Mengejutkan dan Solusi Perlindungan Anak
Update Vaksin Tuberkulosis, Indonesia Menuju Eliminasi TBC 2030
Penularan Virus hMPV Tidak Akan Memicu Pandemi Selanjutnya, Ini Alasannya!
Faunda Liswijayanti
Topic
#demamberdarah, #vaksin, #BPOM, #dengue, #vaksinanak