Ingin Memberi Impact
Saat ditemui femina, Tyo baru saja selesai melakukan rapat dengan konsultan bisnis, tentang rencana bisnis mereka tahun ini. Ia pun bercerita, di balik keberhasilannya menjual es kopi susu, ada pelajaran berharga bagi dirinya dan para pelaku industri kopi. Selama ini, para penikmat kopi berlomba-lomba menjadi ‘pakar’ hingga lahirlah kalangan yang menganggap kopi yang berkualitas itu hanya jenis arabika serta minum kopi yang benar itu harus kopi hitam.
“Waktu itu saya juga termasuk coffee snob. Tapi kemudian saya berpikir, apa ini yang saya inginkan? Sebagai pengusaha kopi, saya ingin kopi enak dan bisa dinikmati lebih banyak orang,
sekaligus memberi impact lebih besar bagi petani kopi,” ungkap pria yang juga mengelola Toodz
House, resto dan coffee sejak tahun 2010. Tekadnya satu, ia ingin meningkatkan taraf hidup petani kopi dengan cara membeli lebih banyak biji kopi.
Keinginan Tyo hanya satu, ia ingin membuktikan bahwa untuk membuat masyarakat Indonesia lebih cinta kopi bukan berarti memaksakan kehendak barista dan membelokkan selera kebanyakan yang memang masih suka rasa manis dan creamy. “Mau diprotes bukan coffee latte juga tidak bisa, namanya saja Kopi Susu Tetangga. Ya, suka-suka tetangganyalah,” katanya, tergelak. Menurutnya, soal kopi balik lagi ke selera dan budaya.
“Tuku hanyalah kendaraan. Saya cuma ingin punya usaha, ada duitnya, diversifikasi, tapi memberikan impact. Menjadi nomor satu bukan hal terpenting, tapi harus impactful,” ujarnya.
Kini, ia berusaha mempertahankan apa yang sudah berjalan sekaligus memberi impact yang
lain. “Saya ingin membuat model bisnis yang lebih ramah bagi difabel. Selain itu, saya ingin memberi pelatihan entrepreneurship untuk anak yatim piatu,” ujarnya. Dua rencana yang sedang ia pikirkan matang-matang.
Topic
#profil, #kopi