Profile
Resep Bisnis Dari Andanu, Pemilik Kedai Kopi Tuku

19 Jun 2018

 
Ingin Memberi Impact
 
Saat ditemui femina, Tyo baru saja selesai melakukan rapat dengan konsultan bisnis, tentang rencana bisnis mereka tahun ini. Ia pun bercerita, di balik keberhasilannya menjual es kopi susu, ada pelajaran berharga bagi dirinya dan para pelaku industri kopi. Selama ini, para penikmat kopi berlomba-lomba menjadi ‘pakar’ hingga lahirlah kalangan yang menganggap kopi yang berkualitas itu hanya jenis arabika serta minum kopi yang benar itu harus kopi hitam.
 
“Waktu itu saya juga termasuk coffee snob. Tapi kemudian saya berpikir, apa ini yang saya inginkan? Sebagai pengusaha kopi, saya ingin kopi enak dan bisa dinikmati lebih banyak orang,
sekaligus memberi impact lebih besar bagi petani kopi,” ungkap pria yang juga mengelola Toodz
House, resto dan coffee sejak tahun 2010. Tekadnya satu, ia ingin meningkatkan taraf hidup petani kopi dengan cara membeli lebih banyak biji kopi.
 
Advertisement
“Untuk itu, saya mencari konsep, bagaimana sebagai pelaku kopi di hilir, saya bisa menyerap kopi dari petani dalam jumlah banyak dan konsisten. Caranya, ya, membuat kopi yang laku dijual,” kisahnya, tentang latar belakang berdirinya Tuku. Memiliki hubungan pertemanan yang baik dengan para penggiat industri kopi, ia tak gentar dipandang miring karena menjual kopi yang dicampur susu, creamer, bahkan gula aren. Sesuatu yang dianggap sebagai sebuah ‘pengkhianatan’ bagi para pencinta kopi sejati.
 
Keinginan Tyo hanya satu, ia ingin membuktikan bahwa untuk membuat masyarakat Indonesia lebih cinta kopi bukan berarti memaksakan kehendak barista dan membelokkan selera kebanyakan yang memang masih suka rasa manis dan creamy. “Mau diprotes bukan coffee latte juga tidak bisa, namanya saja Kopi Susu Tetangga.  Ya, suka-suka tetangganyalah,” katanya, tergelak. Menurutnya, soal kopi balik lagi ke selera dan budaya.
 
“Tuku hanyalah kendaraan. Saya cuma ingin punya usaha, ada duitnya, diversifikasi, tapi memberikan impact. Menjadi nomor satu bukan hal terpenting, tapi harus impactful,” ujarnya.
 
Kini, ia berusaha mempertahankan apa yang sudah berjalan sekaligus memberi impact yang
lain. “Saya ingin membuat model bisnis yang lebih ramah bagi difabel. Selain itu, saya ingin memberi pelatihan entrepreneurship untuk anak yatim piatu,” ujarnya. Dua rencana yang sedang ia pikirkan matang-matang.
 


Topic

#profil, #kopi

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?