Di balik kepedulian dan pengabdiannya pada kemanusian yang selama ini ia lakukan, Ratih adalah wanita tangguh. Berbagai cobaan hidup yang berat menimpa dirinya di usia muda. Pernikahan pertamanya harus kandas di saat ia masih menempuh studi kedokteran. Namun, cintanya yang besar untuk putra semata wayangnya, Alfito (13), dari pernikahan pertamanya, membuat Ratih bangkit dan berjuang membenahi hidup.
Tahun 2008, ketika tengah mengejar cita-citanya sebagai dokter spesialis anestesi di Universitas Padjajaran, Bandung, ia didiagnosis menderita polisiternia vera. Penyakit kelainan genetis ini membuat sumsum tulangnya sangat aktif berproduksi, sehingga darahnya mudah mengental.
Ketika Ratih tengah bersiap membantu sebuah operasi di RS Hasan Sadikin Bandung, tiba-tiba saja ia pingsan. Saat diperiksa, tekanan darahnya sangat tinggi. “Saat terbangun, saya sudah ada di ruang ICU Rumah Sakit Cikini, Jakarta. Itu hari ke-4 sejak pingsan. Saya terserang stroke,” ceritanya.
Saat itu usianya baru menginjak 27 tahun. Akibatnya, Ratih harus menjalani terapi selama berbulan-bulan. Layaknya pasien kanker, ia juga harus menjalani kemoterapi. Bedanya, bila pada pasien kanker kemoterapi itu mematikan sel kanker, maka dalam kasus Ratih ini kemoterapi berfungsi untuk melemahkan aktivitas sumsum tulangnya yang superaktif. Karena harus menjalani perawatan intensif yang cukup lama, Ratih mengundurkan diri dari kampus.
“Dengan penyakit ini saya ngeri juga untuk menjadi dokter anestesi. Bagaimana jika pengentalan darah itu terjadi pada organ vital seperti pernapasan. Bukan hanya nyawa saya hilang, saya pun bisa membahayakan nyawa pasien yang mungkin sedang saya tangani,” ujar Ratih. Hingga saat ini, Ratih bersyukur kondisi kesehatannya sudah terkontrol, terapi yang ia jalani berjalan lancar. Meski begitu, untuk beraktivitas dengan normal, ia harus tetap menjaga agar darahnya tidak mengental dengan rutin mengonsumsi obat-obatan.
Ia pun harus rela kehilangan momen-momen bersama anaknya, seperti saat mengambil rapor, menonton pentas anak, bahkan ulang tahun anaknya. Namun, ia selalu menjaga komunikasi dan menceritakan tiap misi serta pengalamannya kepada anak-anaknya.
“Jika waktu dan kondisi memungkinkan, saya juga mengajak anak-anak dalam misi saya. Sekarang ini si sulung bahkan tak ragu berkata bahwa ia ingin mengikuti jejak saya, traveling sambil membantu sesama,” ujar Ratih, terharu.
Beruntung sang suami yang anggota Wanadri sangat mendukung Ratih dan anakanak dengan mengajari langsung mereka berbagai teknik bertahan hidup di alam bebas, mendaki gunung, hingga panjat tebing. Tidak hanya mendapat dukungan dari anak dan suami, ketulusan Ratih menolong sesama juga menggerakkan hati ayahnya, M. Thalhah, yang diam-diam mendirikan klinik gratis di Tambun, Bekasi, Maret lalu.
Pesan ayahnya: “Jadikan klinik ini berjalan sesuai visi kemanusiaanmu.” Sekarang ini ia tengah menggalang crowdfunding untuk membiayai klinik tersebut. Ia pun optimistis bisa mendapatkannya.
Selain itu, terinspirasi dari pengalamannya bersama program Doctors Go Wild, Ratih, dibantu suami, membuat video-video pendek bertema edukasi kesehatan, salah satunya kesehatan dan keselamatan saat melakukan pendakian. Kini, sudah ada 32 video yang ia buat. Sekitar 22 video telah ia unggah ke YouTube dan mendapatkan respons yang cukup baik. (f)
Yuniarti Tanjung (Kontributor, Jakarta)