“Sejak remaja saya dijuluki ‘musal’ alias muka salon. Saya selalu menjaga rambut terblow rapi, kuku berwarna cantik, dan bulu mata lentik,’ katanya, tersenyum. Kecintaan pada alam pula yang memantapkan tekad Ratih untuk ikut serta dalam kegiatan Perempuan Merah Putih Mendaki Gunung Aconcagua, gunung tertinggi di dunia yang berada di Argentina, pada 2012.
Ketika tengah mempersiapkan diri ke Aconcagua inilah, sebuah tawaran menarik menghampirinya. Ratih diajak untuk casting program televisi, Doctors Go Wild. Ia pun berhasil lolos menjadi host program acara televisi yang membawanya keliling Indonesia itu sambil melakukan edukasi kesehatan.
“Ini salah satu impian saya. Saking senangnya, kontrak saya tanda tangani tanpa melihat jumlah honornya,” katanya, tersenyum. Setidaknya, ada 54 daerah pelosok telah ia jelajahi bersama Doctors Go Wild. Medan yang ditempuh sebagian besar pedalaman terpencil yang nyaris tidak bersentuhan dengan dunia luar, apalagi medis. Di beberapa daerah, motor pun tak sanggup melewatinya, hingga ia dan tim acara harus berjalan kaki dan mendaki berjam-jam lamanya.
Dari program ini Ratih mendapat pengalaman berharga. Menurutnya, metode pengobatan masyarakat tradisional jangan disepelekan. Justru perlu dikaji. “Seperti di Kalimantan, ada sekitar 1.700 tanaman berkhasiat untuk kesehatan yang belum tereksplorasi,” ungkapnya, serius.
“Bagaimanapun, kita harus bisa membawa diri, menghargai apa yang mereka percayai, karena dengan demikian mereka juga bisa menerima perubahan yang kita bawa. Seperti pepatah ‘di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak’. Cara saya adalah mendekati tetua atau orang yang biasa mengobati di kampung tersebut, mereka ini akan menjembatani kita dengan warga,” jelasnya.
Tak jarang ia juga harus berhadapan dengan dilema sebagai seorang dokter. Saat berada di kampung Negeri Huahulu, Kutai Barat, Kalimantan Timur, misalnya, ia didatangi seorang bapak berperawakan kurus, wajahnya terlihat lelah dan menahan sakit. Saat itu, untuk bisa bertemu dengan Ratih dan timnya, bapak yang ditemani anaknya itu harus berjalan kaki selama satu jam.
Berdasarkan pemeriksaan fisik, bapak tersebut membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, seperti darah, scan, dan MRI. Ratih sempat berkeras untuk membawa pasien tersebut ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa. Namun, medan yang sulit karena harus menembus hutan dengan jalan kaki berjam-jam serta mengarungi sungai berarus deras, membuat pasien tersebut tidak bisa dievakuasi.
”Ketidakberdayaan untuk menolong karena keterbatasan alam dan peralatan medis sering kami jumpai. Kenyataan ini sungguh membuat sedih,” ungkapnya. “Sayangnya, wilayah Indonesia yang luas dan terpencar menyebabkan banyak daerah yang masih sangat minim infrastruktur kesehatannya. Itu sebabnya, saya sangat mendukung perbaikan infrastruktur hingga ke pedalaman. Selain bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi, juga membuka akses bantuan kesehatan lebih baik,“ tambah Ratih.
Tiga tahun bertualang dengan Doctor Go Wild, tahun 2015 program televisi tersebut berhenti tayang. Namun, misi kemanusiaan Ratih tetap berjalan. Ketika gempa Nepal misalnya, ia berangkat ke Nepal dengan biaya sendiri. Ratih meyakini, kebaikan akan membuka pintu rezekinya.
Selanjutnya: Cobaan hidup menempa Ratih menjadi pribadi yang kuat, ia menderita kanker yang menyerang sumsum tulang.
Topic
#RatihCitraSari, #Profil, #WanitaHebat