Profile
Inayah Wulandari, Ajak Orang Muda Bahagia dan Berdaya

22 Dec 2017


Belajar dari Gus Dur

Sejak dulu, bahkan saat ayahnya menjabat sebagai Presiden RI ke-4, adik dari Alissa
Qotrunnada Munawaroh (Lissa), Zanuba Arifah Chafsoh (Yenny), dan Anita Hayantunnufus (Nita)
ini memang terkenal paling ‘rebel’.

Rambutnya yang dicat warnawarni, sikap cuek, dan bicaranya yang ceplas-ceplos tidak hanya mengundang komentar banyak orang, tapi juga menjadi umpan manis media massa. Mengingat ini, Nay yang kini tampil dengan rambut pirang, tertawa geli.

Ia bercerita, di masa itu, kakak pertamanya, Lissa, pernah berteriak protes. Ia mengadukan rambut warna-warni Nay kepada sang ayah, yang kemudian memanggilnya. “Kamu tahu kalau secara fiqih mengecat rambut itu dilarang? Kamu siap menanggung konsekuensinya, termasuk jika dihujat orang?” tanya Gus Dur kepada Nay.

Dengan tegas Nay menjawab, “Saya tahu dan siap.” Lalu, dengan gaya santainya, Gus Dur berkata kepada Lissa, “Lha, wong, anaknya sudah siap nanggung risiko, kok, kamu yang ribut.” Masalah selesai di situ. Dari sang ayah, Nay belajar untuk tidak melihat masalah sebagai penghalang.

Sebaliknya, masalah hadir sebagai pemicu kreativitas dalam mencari solusi. Ia pun berkisah nostalgia ayahnya saat menjadi mahasiswa perantauan di Universitas Kairo, Mesir. Saat itu, di asrama mahasiswa Indonesia, tiap orang mendapat giliran memasak. Tiap tiba giliran Gus Dur, mereka selalu bisa menikmati daging. Mereka keheranan, sebab mereka tahu tak ada cukup uang untuk membuat menu mewah ini.

“Rahasia Bapak terbongkar ketika salah satu mahasiwa Indonesia ditanyai pedagang daging di pasar. ‘Mana temanmu yang punya 20 anjing itu?’” Rupanya, selama itu Gus Dur mendapat sisa-sisa tetelan daging untuk ‘20 anjingnya’ di rumah. Kami pun tertawa terpingkal-pingkal mengenang akal-akalan Gus Dur ini.

Semangat mencari solusi ini juga yang ingin Nay lanjutkan pada generasi muda saat ini. “Indonesia
membutuhkan calon-calon pemimpin bangsa yang berorientasi solusi,” tegasnya.

Dalam kenangan Nay, ayahnya itu punya cara unik dalam mendidik putri-putrinya. “Waktu kecil, saya tidak hanya dicekoki dengan cerita-cerita Nabi, tapi juga dengan cerita-cerita wayang. Dengan cara inilah Bapak memasukkan pesan moral,” ungkap pencinta wayang yang beberapa kali bermain wayang orang, seperti Arjuna Galau (2013) dan Lahirnya Parikesit (2015) ini.
Advertisement

Ia juga ingat, ketika beberapa buku dibredel di era Orde Baru, Gus Dur malah membawakannya buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer yang ada dalam daftar larangan.

Masih lekat di ingatannya, saat masih tinggal di Istana, ayahnya sering mengajak Nay untuk ikut berkunjung ke beberapa tokoh penting nasional, seperti Pramoedya, S.K. Trimurti, dan Benny Moerdhani. “Ayo, ikut Bapak!” ajak ayahnya, selalu tiba-tiba.

Disangkanya, waktu itu ia akan menjadi saksi dari pembicaraan serius tingkat negara. Kenyataannya, ini menjadi acara santai kunjungan sahabat, di mana para tokoh itu membagikan kisah-kisah nostalgia mereka.

“Om Benny bercerita saat ia terjun ke medan perang. Bu S.K. Trimurti sibuk nembang, dan bercerita saat beliau rapat hingga pukul 2 pagi untuk mempersiapkan pertemuan Sumpah Pemuda, dan menyambut rombongan pemuda dari luar Jawa,” cerita Nay. Pertemuan-pertemuan ini membuatnya menyerap ilmu dan semangat kebangsaan langsung dari mereka yang terjun memperjuangkannya.

Nay mengaku, sangat berat meneladani ayahnya yang bisa terus maju dan fokus mengerjakan visinya, dengan atau tanpa dukungan. Ketika serangan kelelahan itu muncul, Nay punya cara untuk mengembalikan fokus serta membangkitkan lagi semangatnya, yaitu dengan traveling. Salah satu hobi yang juga ditularkan oleh Gus Dur yang gemar traveling dan lebih suka bermalam di ashram atau vihara untuk berjumpa teman-temannya.

Baru-baru ini, bersama rekan-rekannya, Nay berkelana selama tiga minggu di India. Ladakh, yang berbatasan dengan Tibet, menjadi salah satu kota yang dikunjunginya. Ia sangat terkesan saat tahu bahwa Islam menjadi agama kedua terbesar setelah Buddha di sana. Uniknya, meski berjilbab, para wanita muslim di Ladakh tetap mengenakan pakaian sari, dengan perutnya yang mengintip. Dan itu tidak menjadi soal di sana.

“Setelah sering kena hujat sebagai anak kiai yang tidak berkerudung dan punya rambut warna-warni, pengetahuan ini menjadi sesuatu yang sangat menyegarkan buat saya,” ceritanya, tertawa.

Baginya, bepergian dan berinteraksi dengan orang-orang di luar zona nyaman memberikan perspektif baru, dan membuatnya belajar untuk bersyukur. Sebab, apa yang selama ini dianggap sebagai masalah, di tempat lain hal ini bahkan bukan apa-apa.

“Begitu melihat lalu lintas Kota New Delhi, saya baru bisa bersyukur tinggal di Jakarta. Meskipun macet, kendaraan masih teratur,” ujarnya, geli.

Selanjutnya: Si Bungsu Kesayangan
 


Topic

#InayahWulandari, #WanitaHebat, #GusDur, #InayahWahid

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?