Fiction
Novelet: Esperansa (3)

21 Jul 2018



Tak ada yang ganjil dari hidup kami berdua. Aku bisa merasakan cinta dan kasih sayang Papa. Dia memanjakanku sekaligus mengajarkan hal-hal yang seharusnya aku bisa. Dia ayah sempurna. Aku mengagumi dan memujanya. Sampai kemarin, ketika semuanya terungkap. Sekarang aku tak tahu harus bagaimana menyapa, kalau nanti pulang dan bertemu dengannya.

“Apa tidak sebaiknya tinggal di sini beberapa hari lagi?” tanya Antoni, ketika aku mengatakan ingin ikut pulang Abilio.

“Aku sudah bilang begitu, bahkan aku mau menjemputnya. Tapi, kau tahulah adikmu sungguh keras kepala. ” Abilio menyahut panjang.

“Aku tidak minta diantar jemput.”

“Ya, Bil, dia bukan anak kecil lagi,” kata Antoni, sambil mencibir jenaka. “Tapi, kalau kau mau tinggal dulu, aku bisa mengantarmu sampai bandara.” Dia menatapku serius.

“Memangnya kau sudah siap pulang?” Tubuhku terasa membeku dengan pertanyaan Antoni. Ya, apakah aku sudah siap pulang? Apakah aku sudah siap bertemu Papa?  Tetapi, apa yang harus aku lakukan di sini?
Kesunyian menyergap beranda. Aku merasa semua orang diam karena membiarkanku berpikir.

Pada akhirnya, aku memang memutuskan untuk beberapa hari tinggal. Bagaimanapun juga, mereka bukan
orang asing dalam hidupku. Mereka tetap memperlakukan aku dengan hangat.

Advertisement
“Telepon saja kalau rindu, ya?” kata Abilio, sambil naik ke boncengan motor Antoni.

“Tidak akan!”

“Tapi aku pasti akan.”

Semua orang tertawa mendengar percakapan kami. Carolin sibuk menggodaku setelah mereka pergi.

Keputusanku untuk tinggal ternyata tidak salah. Akupunya waktu berbincang banyak dengan Carolin, Antoni, dan terutama Mama. Aku meminta pertimbangan wanita itu, apa yang sebaiknya kulakukan.

Mama memintaku menarik sudut pandang keluar persoalan. Memintaku membayangkan seandainya aku jadi Mama, jadi Papa, jadi wanita yang telah melahirkanku atau bahkan menjadi diriku sendiri.

“Tiap keputusan pasti ada alasannya,” begitu kata Mama. Aku mencoba memahami keputusan Mama pergi dari Papa. Barangkali seperti itu juga yang kulakukan, jika berada di posisinya. Lebih dari itu, aku mengagumi bagaimana dia bertahan dan menerimaku sebagai bagian dari hidupnya. Tentu tidak mudah. Aku belum tentu sekuat dirinya. Bahkan, di tengah kekacauan hidupnya, dia mampu berpikir jernih dan membuat berbagai perencanaan untuk Antoni dan Carolin.

Lalu Papa. Aku tidak mengerti bagaimana semua bisa terjadi. Kepalaku berdenyut membayangkan kenyataan lain dari orang yang aku kagumi. Tetapi lepas dari itu semua, apa yang dilakukan padaku tak bisa begitu saja disalahkan. Mungkin, kalau di posisinya, aku pun tak akan menyerahkan anak yang kurawat kepada orang asing bagi anakku, meskipun ibunya sendiri.

Dan aku? Apakah aku akan terima begitu saja ikut orang yang tidak kukenal? Apakah di usia tiga belas tahun aku mampu menerima kenyataan perihal diriku? Bagaimana orang yang seharusnya kupanggil ibu memperlakukan aku? Benarkah dia tidak mau merawatku dan hendak menaruhku di panti asuhan? Kenapa? Apakah aku penghalang cita-citanya? 
 


Topic

#fiksi, #fiksifemina, #cerber, #novelet

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?