Seperti halnya setelah mendengar rekaman pengakuan Papa, aku meringkuk di sofa tanpa bicara. Papa juga tak bersuara. Berhari-hari kami saling diam dalam kesunyian canggung. Aku enggan menyapa Papa. Papa juga tak bertanya kenapa aku diam. Berulang kurunut kepingan pengakuan Mama, Papa, dan Helen.
Dalam perjalanan ke Bali, Antoni bilang padaku;
“Sebagaimana sebagian orang menjadi ujian bagi lainnya, sebagian lagi adalah perantara takdir bagi yang lain. Kau, aku, Carol….”
Mungkin benar kata Antoni, bagi Mama ini adalah ujian. Bagi Papa dan Helen mungkin juga benar ini
adalah hukuman dan jalan menuju perbaikan bagi hidup mereka, hanya Tuhan yang tahu. Tapi, bagaimanapun juga, Papa telah menunjukkan penyesalannya. Merawat dan menjagaku dengan baik.
Menyimpan rahasiaku mungkin sekilas tidak adil, tapi menahanku untuk tidak menyerahkan kepada Helen kurasa cukup bijak. Aku sungguh tidak menyangka perjalanan ke Sambas yang penuh harapan, justru membuka tabir besar dalam kehidupanku. Mama benar, sebagian rasa bersalah tersandang selamanya pada diri seseorang.
Papa juga mengakui itu. Dan aku, tidak ada yang membahagiakan sama sekali melihat Papa tampak tersiksa dengan diamku. Ketika Tuhan mengizinkan aku mengetahui perihal hidupku, layakkah aku membalas dengan membangun jarak dan menyulut dendam pada orang yang telah berbuat baik padaku? Seharusnya aku belajar dari Mama, yang berusaha melapangkan hatinya.
“Pa,” Aku menyentuh pundak Papa yang mencabuti rumput di halaman. Dia tampak terkejut. “Ayo, kita
sarapan.” Lalu tatapannya berubah lega.
“Terima kasih, Mili.”
Kami minum teh dan makan paun yang baru saja kubeli.
“Carolin jadi guru, Antoni jadi petani yang rajin.” Aku berusaha mencairkan suasana. “Dan Mama masih
menjahit.”
Aku menatap Papa, tersenyum melihatnya tampak gugup saat kusebut kata Mama. “Mereka semua menitip salam untuk Papa.”
“Ya.” Papa mengangguk.
“Mungkin aku akan menghubungi Helen, kapan-kapan.”
“Emili.” Lelaki itu menaruh cangkirnya. “Papa sungguh sungguh minta maaf.” Aku menangkap ketulusan dalam matanya.
“Ya, Pa. Aku belajar banyak hal dari Mama.”
“Itu mengapa aku memintanya yang bercerita kepadamu.”
Aku berdiri, menggeser kursi dan menghambur ke pelukan Papa.
“Terima kasih. Esperansa ne’e sei iha, harapan itu masih ada,” bisik Papa. Benar kata Mama, memaafkan
itu melegakan, seperti kembali ke rumah setelah pengembaraan yang melelahkan. (f)