“Melangkahlah, Nak.”
“Amma’ tidak masuk?”
“Amma’ tunggu di pekarangan. Wakili Amma’.”
“Maafkan, jika permintaanku ini berat, Amma’.”
“Bukan soal. Ini ujianmu, Nak. Jika kau berhasil, Amma’ yang berterima kasih.”
“Amma’, doakan kalau begitu.”
“Pasti, Nak. Minta tabe’-lah lebih dahulu sebelum mohon restu. Jadilah bangsawan yang sesungguhnya. Sudah! Melangkahlah….” Linang tertahan di pelupuk ketika menepuk pundak putranya.
Tidak ada yang salah, tapi dia yang cerita. Supaya anaknya paham perjuangan ibunya. Andi Tenri Punna Gau tidak sangka itu menjelma bumerang. Anaknya menelusuri masa lalunya sampai menemukan gadis pujaan, dan ingin menikahinya. Adalah salah satu anak perempuan lelaki bangsawan Bugis yang pernah menalaknya.
Kini, Andi Tenri Punna Gau memandang punggung anaknya yang melangkah maju tanpa menoleh lagi, menaiki tangga rumah panggung, lantas ditelan remang gelap. Menghadapi segala kemungkinan. Menghadapi pintu yang terbuka. (f)
Catatan Bugis:
Andi: Gelar bangsawan Bugis (pemberian Belanda)
Etta’: Ayah
Amma’: Ibu
Siri’: Harga diri, kehormatan
Pesse’: Simpati
Silariang : Kawin lari
Puang: Gelar bangsawan atau panggilan untuk orang yang dihormati
Andi’ atau Anri’: Panggilan adik untuk wanita
Daeng: Gelar bangsawan atau panggilan kakak untuk laki-laki
***
Emil Amir
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
Topic
#fiksifemina